Puisi: 30 Tahun – Putu Vivi Lestari (1983-2017)

Putu Vivi Lestari (1983-2017)
30 Tahun

“Beri sajalah aku
       penundaan yang lama”

saat para resi
       di abad-abad
             lewat
cuma mengirim seserpih
       kidung suci
dan rimba semesta
       tak kulewati
sebab kesucian
koyak
di langit
       firdaus

Yang tetap menjdadi reruntuhan…

Mungkin di kerajaanmu
       kelahiranku
cuma jadi malaikat
pelindung yang jauh
: (panglima perang Karthago
             di musim lalu)
penerus mata air
atau penyalip
       keinginan
(nafsu dan lapar)
ranjang dan
       liang hitam
       : kepulan wajan
       letupan minyak
       memeta di tubuhku

Yang tetap menjadi reruntuhan…
Sesaji dari akar-akar
       air mataku
tak sempat kutuang
       di bumbung-bumbung
: air suci para dewa

“Beri sajalah aku
       penundaan yang lama”
aroma malam pincang
menyeru: “Tudung saji itu
esok tak boleh perawan”
tak musim
       mengirim kemarau
ladang-ladang hijau
hangus dibakar waktu
       jerit ternak
mengabarkan sakit
       sejarah
Maka
kubiarkan saja
tudung saji itu
       dewasa
dengan bulir-bulir putih
(sisa panen tahun kemarin)
dan beberapar iris
       bawang merah
bawang putih yang menciut
setetes harum limau
serta minyak
       dari perasan kelapa
(sisa hempasan buih)

Tetap saja
tualangku tak cukup

Aroma chanel 5
yang pernah memercik
       di leherku
(saat usia menamakan diri remaja)
menghempas semenit
di musim dingin
yang kemudian lenyap
dalam simbol
       dan legenda!

Pebruari 2001

Sumber: Hijau Kelon & Puisi 2002 (Kompas, 2002)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *