Puisi: Labirin – Agit Yogi Subandi (l. 1985)

Agit Yogi Subandi (l. 1985)
Labirin

aku di dalam labirin berdinding tanaman rambat, gemanya bagai di dalam balairung sepi. taka da papan penunjuk arah. dibiarkannya aku melarat menempuh tikungan-tikungan curam dan jalan buntu tanpa bekal kompas atau peta buta sekalipun. tak ada yang bisa dipahami dari permainan ini, sebab aku tak bisa kembali ke jalan yang telah dilalui. setiap ingin kembali, aku berada di tempat lain.

setiap daun memiliki nama. salah satunya adalah namamu. dan setiap daun berkaitan dengan daun yang lain. mereka bersekongkol dan pura-pura acuh. dirambatkanlah batang dan daunnya yang bernama itu ke kaki, tangan, dan lehermu. jangan katakan tidak kepada mereka, cukup lepaskan rambatannya, maka mereka akan mengerti: kau tak mau terikat olehnya. kau akan sering menyesuaikan tubuhmu kepada daun itu: mengecil dan masuk ke dalamnya. tapi jangan berlebihan menanggapi, sebab daun itu, sesungguhnya seperti dirimu juga: di dalam labirin dan menemui daun-daun pula.

pada saat kau menemuinya, ia adalah daun, tapi pada saat itu pula ketika ia menemuimu, kau sebagai daun. kalian tidak saling mengetahui, sebab kau hanya menebak dari apa yang terlihat; daun-daun yang menunas, dinding retak, kegelapan, bahkan daun-daun yang terlepas dari batangnya—memasuki sebuah pintu yang tak pernah dikunci oleh
siapapun dan mengakhiri petualanganmu—semuanya seolah telah diketahui dan membuatnya menjadi pasti. kau mulai mengasah rasa takutmu. tanpa kau ketahui, dan betapa mengagetkan, semua peristiwa, berjalinan denganmu.

daun-daun itulah yang perlahan menghantar dan memperkenalkanmu kepada daun-daun lain. kau tinggal memilih, masuk ke dalam atau berdiri memandang kemudian pergi: memastikan yang belum pasti di bawah terik matahari dan memastikan bentuk benda-benda di bawah redup cahaya bulan juga bintang-bintang. dan kejujuran, adalah milik kematian. batu-batu, benda-benda di sekelilingmu, bahkan tubuhmu berpijaran dan pijaran itu kemudian meninggalkan semuanya menuju angkasa, menembus atmosfer bagai bola-bola cahaya yang kemudian pecah menjadi jutaan keping. di dalam labirin ini, aku seperti pencari. pencari pintu keluarku sendiri. tapi sesungguhnya aku mencarikan pintu keluarmu, dan kau mencarikan pintu keluarku.

suatu ketika, kususuri pasir-pasir coklat muda yang ditumbuhi rumput. kudengar rintihan dari balik puing. ada wewangian yang perlahan menghisap tubuhku ke dalam pusaran di daun-daun yang memiliki ruang lain lagi, labirin yang lain: cahaya kelam, dinding yang lebih puing, tumbuhan rambat yang lebih rambat, bahkan rintih yang lebih rintih lagi. dan tumbuhan itu melenguh bagai nafas harimau terluka. aku mulai merapuh dalam cahaya itu. berahi-berahi bergegas menyusun dirinya di dadaku. mencari lagi musim yang menghilang di bilik jantungku, hingga mengeram, kemudian memecutkan tangannya yang seperti ranting kering dan melukai lagi dinding di bilik jantungku.

rongga dadaku digenangi darah yang menghitam. kebencian-kebencian mengkristal di dalamnya, berhamburan, beterbangan, dan masuk lagi ke dalam daging, resap ke dalam pembuluh darah seraya mengintai lubang-lubang di tubuhku. mereka berpesta dalam kejemuan, dalam dahaga yang mendorong perkiraan dan dugaanku terhadap ruang. kemudian kristal-kristal itu meleleh, keluar lewat lubang hidungku. seketika semuanya menjadi bersih. tak bersudut dengan sebentang kabut di kejauhan dan dibayang-bayangi pohon-pohon hitam samar.

aku seperti tengah kembali pada permulaan: bukan menjadi anak kecil, tapi aku kembali bisa melihat; pohon-pohon melambai-lambai, rumput, langit biru, serangga-serangga beterbangan mengintari setiap tumbuhan: seperti di dalam akuarium jernih yang ditunggangi tebaran dari segaris cahaya lampu neon warna-warni. ketika gelap, hanya ada cahaya samar di belakang kabut itu. pohon-pohon bersiluet, dan cahaya kunang-kunang beterbangan bagai punggung langit malam. saat aku melangkah, semuanya menjadi putih. seputih pijaran pada benda-benda dan tubuhmu yang kemudian meluncur dan lesap ke langit kemudian pecah.

kini, aku berada di labirin yang lain lagi. jalan samar: seperti bayang- bayang. tapi adakah yang kokoh bertahan pada jalannya sendiri.

dinding-dinding muncul inci demi inci.

Tanjungkarang, Juli, 2009

 

Sumber: Sebait Pantun Bujan (Dewan Kesenian Lampung, Bandar Lampung, 2010)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *