Puisi: Hidup-Mati Dua Lelaki – Herry Gendut Janarto (l. 1958)

Herry Gendut Janarto (l. 1958)

Sketsa Hidup-Mati Dua Lelaki

Lelaki sekilas laiknya pejabat teras itu gusar tak keruan di depan petugas informasi bandara Metropolitan. Kalap semprot sana semprot sini dalam upaya pamer jatidiri dan data selaku sosok berkelas. Pasalnya, sang beliau necis itu ketinggalan pesawat, padahal seabreg tugas dinas menanti di kota tujuan. Semua agenda acara hari itu buyar total. Di puncak amarah tanpa rikuh ia tuntut pecat seluruh staf maskapai penerbangan yang berantakkan agenda kerja lelaki itu. Raut muka paling ingar bingar itu kontan muncul tanpa permisi di layar dan lembar  media. Dan raut muka itu makin hancur-hancuran nongol di sosial media, Facebook, Twitter, Instagram, Google Plus, Pinterest, dan lainnya secara viral, menyebar berkesinambungan. Ringkas kata, jadi trending topic.

Sementara itu ada seorang lelaki di ranah urban metropolis tampak asyik di pagi itu menyiram rata deret tanaman pot di latar samping rumah. Tugas rutin yang dijalani setiba masa pensiun dari sebuah kantor swasta bonafide. Pagi itu terjadwal pula pergi ke optik langganan ambil pesanan kacamata baca. Lanjut mampir kantor lama buat menguangkan kwitansi rumah optik tadi plus tebusan resep Amlodipine, pil penurun tensi buat satu bulan ke depan. Sebelum pergi seraya menunggu ojek langganan, ia sempat sekilas menatap ulah di layar kaca sang pejabat yang lagi uring-uringan naik pitam di bandara Metropolitan. Cepat spontan ia lempar komentar, “Halah, baru ketinggalan pesawat saja sudah marah-marah tak keruan. Aku yang ketinggalan zaman pun tetap bersikap biasa-biasa saja.”

Sumber: Gado-gado Kredo, 101 Puisi Humor (Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2016)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *