Puisi: Surat Api – Ahmad Faisal Imron (l. 1973)

Ahmad Faisal Imron (l. 1973)

Surat Api

dari selembar surat ia meminta sebuah negeri
tubuhnya yang bengkak, rambutnya yang miskin
namun bergairah ketika membikin nyala api

telah kusediakan minuman dari buah pohon narjil
warna merah air pada sebuah cangkir keperakan
diingatnya sekali lagi instalasi dalam bentuk kotak-kotak
dan seperti di sini, di mana harkat manusia terkotak-kotak

telah datang berdua, bergegas dari ujung desa
bagai sepasang biksu, mereka begitu khusyuk

memahami sesuatu
pada sehelai daun pisang
dan mulai menyadari
bahwa di sini, malam
bagai seribu duri

pada balkon ingatanmu
ingin kutitipkan berpetak-petak sawah, benih-benih kina
hamparan putih ombak negeri, cangkul coklat para petani

dulu, kita bakar jantung sendiri
menarikan pena pada lingkaran api
tapi ternyata luluh oleh keadaan
oleh sebuah jeritan

sabarlah, di luar warna hitam itu masih menari-nari

jika pada saat ini kau akan pergi dengan sebuah teka-teki
bagaimana mungkin dapat kupersembahkan padamu:

angin yang segar, dunia khayalan, bayang-bayang ibumu
sejak ia meninggalkan nama di kota yang agung
sejak kau masih dalam suasana yang serba terjangkau
tak dapat terlepaskan, kenyataan yang memang
membikin rongga dada berantakan

tak ada teks-teks lain untuk perubahan semacam ini
selain keyakinan agar selalu mengimani ujung belati!

2001

Sumber: Maliun Hawa, Sajak-sajak 1998 – 2006 (Komunitas Malaikat, Bandung; 2007)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *