Puisi: Muaisim – Ahmad Faisal Imron (l. 1973)

Ahmad Faisal Imron (l. 1973)

Muaisim

bermula dari magma
sesudah itu kita berkata: sebelum di titik subuh
sebelum kerikil sampai di genggaman ke-7
ada semacam harap

apalah artinya
antara Arafah dan Muzdalifah?

padang pasir yang sunyi
penderitaan Hajar di suatu hari;
ibu dari semua wanita yang terusir
telah kurangkum pedih bumi ini
dalam diriku, dingin subuhku

pada sisa reruntuhan sang Ibrahim
doa para penziarah melepaskan diri ke angkasa
seputih buih, tenda-tenda bergulung di bianglala
malam, gelombang angin, kemudian pagi

dan fajar menyusun kembali seluruh Mina

dan aku tahu
kota juga keramaian ini hanya sementara
meski badai dan semburan darah domba itu
tercipta menjadi tiga monumen batu

yang tidak demi satu masa

2005

Sumber: Maliun Hawa, Sajak-sajak 1998 – 2006 (Komunitas Malaikat, Bandung; 2007)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *