Puisi: Sajak Dua Belas – Dharmadi (l. 1948)

Dharmadi (l. 1948)

Sajak Dua Belasku

(1)
jejakku berkabut; mencari arah
ke sebuah benua lain
yang tak mengenal pengkhianatan

(2)
di sebuah rawa; terjerat akar bakau
sebuah biduk seperti titik terapung-apung dalam
gelora gelombang
aku dalam kosong; siapa yang membawaku jauh ke sana?

(3)
aku-kau bagai pengantin ratu
jangan dipisahkan oleh ruang dan waktu

(4)
jadikan aku kakitangan-mu
dalam gerak kehendak-mu

(5)
kenapa mesti harus berpisah
kalau hanya disebabkan sesuatu yang tak tentu

(6)
kalau ini memang kepastianmu
terimalah garis keberadaanku

(7)
dengan apa adanya
aku ingin cintamu yang sebenarnya

(8)
bacalah isi hatiku betapa merindukanmu
di mana kau bersembunyi, kucari-cari hatimu
untuk kucium dan kuajak bercumbu
dalam percintaan sejati

(9)
aku tak lagi peduli dengan basah tubuhku
dalam hujan yang bertubi-tubi diruntuhkan langit
sebab hangat hatimu telah menyelimuti dingin hatiku

(10)
apakah masih perlu menyebut dengan kata kekasih
kalau ternyata tanpa sebutan itu kau tetap mengasihiku
lalu, cukupkah dengan selalu merindukanmu

(11)
jangan lepas pada dunia ketidakpastian
jemput aku pasangan hatiku
kembalikan ke bumi bunda

(12)
dan suatu ketika sampai juga ke titik akhir
jarum jam jantungku menunjuk waktu
tak lagi ada detak itu
kurapatkan ke dada telepon genggamku
khawatir tak mendengar suaramu
siapa tahu tiba-tiba engkau memanggil
sewaktu-waktu
aku tak ingin kehilangan suaramu
sampai detak terakhir jam di jantungku

2002

Sumber: Aku Mengunyah Cahaya Bulan, 56 Puisi Pilihan (1974-2004), (Bukulaela, Yogyakarta, 2004)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *