Puisi: A untuk Asma – A Nabil Wibisana (l. 1976)

                              untuk Anaci Tnunay

temannya, ahli matematika
yang mengajar bahasa,
menulis kisah pendek
tentang bocah pengidap asma
ia seketika tahu, akan sesak napas
bahkan sebelum kalimat pungkas
bukan, bukan karena itu kisah sedih,
atau karena benih tangis yang ditanam
sejak kalimat pertama, ia hanya teringat
panas matahari pagi saat mendaki
ke puncak taman doa. udara teramat
tipis, dosa berlapis-lapis. baris kalimat apa
yang mesti dipanjatkan jika ia hanya punya
tiga sampai enam kata, sebelum napasnya
habis? ia pun belajar nilai kata-kata
sebuah kata bisa berarti banyak
itulah sebabnya saat ia membaca “inhaler”
atau “maaf” atau “obat”, ia seakan kembali
terlempar ke jalan menanjak itu dan sekali
lagi percaya: meski panjang-berliku,
jalan kasih mampu menyembuhkan
apa-apa yang tak sempat tersembuhkan
dalam sebuah kisah pendek

(Bello, 2016)

Sumber: Basabasi.com, 13 Februari 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *