Puisi: Puzzle Game; Brot! – Halim Bahriz (l. 1989)

Halim Bahriz (l. 1989)

Puisi: Puzzle Game; Brot!

1/
Alat itu tidak becus memastikan beban kesunyian
yang berlemak, atau mengukur jauh-tebal lamunan,
dalam kandungan sebatang kelamin yang nyempil
di bawah pusar yang tak berwibawa.

2/
Ia menulis puisi tiap hari kamis dan senin, pagi
sebelum dengung mesin cuci mati. Menulis seperti
mengelap-ngelap highheels dan membacanya lagi
seperti memajangnya di tengah meja makan bundar
yang kosong-sepi. Seakan mencari kilat dari lampu
yang memantul dari warna sepatu itu.

3/
Dipakainya deret nama penuh huruf i, bukan siti,
dan berdecak ia kepada diri sendiri, “Biar kurus!”

4/
Ia membayangkan karpet merah, yang memanjang
lurus, pula sempit. Kakinya memapah bening laguna,
seanggun percikan nada vivaldi di ujung sepatu. Ia
membayangkan anak tangga dan reruntuhan balkon;
babylonia, gurun, dan casanova yang merenung.

5/
Baca dari no. 3. Lalu 2, 7, 4, 6, dan kembali ke no.1

6/
Ia ingin mengirim puisinya ke media. Berhari-hari
kepalanya berpikir: menempuh waktu sejauh 122 Kg.
Mirip sepasang kaki yang sibuk naik turun timbangan,
lalu malu lalu marah lalu sedih menyalakan mesin cuci
lalu duduk lalu lesu lalu tersedu di hadapan meja makan
yang angker itu: membuat prolog tentang timbangan.

7/
“Ranum. Mirip punggung Audrey Hepburn.”
gumamnya, seraya menatap sebingkai jendela.
Langit memutih, suara bajaj naik ke lantai 23.

2016

Sumber: Basabasi.co; 25 April 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *