Puisi: Menunggu Pompong – Ramon Damora (l. 1978)

Ramon Damora (l. 1978)

Menunggu Pompong

menunggu pompong, menunggu kata-kata. puisi kosong.
jejal manusia. secuil bahasa. ramai orang. sedikit
makna datang. mungkin aku memang bukan penyair.
aku tak hafal tamsil. tak suka mantel. sajakku hanya
menadah lolong bekas kekasihmu. tetumpahan
waktu. menunggu pompong, menunggu omong kosong.
ajaklah aku bicara. kata-kataku riak laut. tak pernah
mampu menjauh dari lumut lengang pelantar. tak pernah
dalam. jangan khawatir. aku tidak berbakat membuatmu
jatuh cinta. tuhanku masih di seberang sana: belum
beranjak dari kunang-kunang bakau yang gugur semalam.
katakan, seberapa besar kemungkinan kau aku ajak kencan.
tak ada sebuah kehilangan pun yang bisa kubanggakan
padamu. jemariku masih utuh menulis hujan rubuh. ajaklah
aku bicara. masih banyak pompong menunggu kita. aku
benci sendiri. aku muak pada ombak yang sering mendesak
darah. menggodaku janji pasang. bahwa semakin pesing
puisimu, semakin berpeluang diterjemah ke bahasa asing.
ajaklah aku bicara. sebelum ini hidupku kacau. terlampau
walau. andai kau tahu. sekarang tiba-tiba aku mengengkau.

2017

Sumber: Kompas, 7 Juli 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *