Puisi: Kehilangan Buku – Adhitya Kriesna

Adhitya Kriesna

Kehilangan Buku

Sejak ia kehilangan buku-buku, pikirannya disandera uang.
Kucatat jalan opininya untuk dikirim melompati isu-isu terkini.
Melampaui data dan fakta yang ditunjuknya.
“Itu tercatat di bundel majalah. Rak paling atas. Kanan.”
Dagu mendongak, wajah murung berbalut kabut.

Kehilangan buku-buku tidak enteng dan butuh uang
Paling tidak, mengembalikan segala cinta dan rahasia yang terselip
di sela bau rayap, darah, dan air seni cecurut
“Kalau ujung kertas itu pahit, maka ia benda paling berbahaya.”
Bibir getar tak berskala richter, terantuk–antuk kesepian.

Di atas pukul sembilan pagi, ia minta ditimang
Kubilang padanya, honor sudah sampai. Ia kencing sambil tertawa
“Idealisme itu penting, uang belakangan.:
Namun esok harinya, ia kembali cari gosip. Ditulis untuk media
berhonor di atas dua ratus ribu.
Sejak ia kehilangan buku-buku, tatapannya melulu mata uang.
Hidup susah dan merana tanpa banyak tahu.
“Uang untuk makan dan ngelmu, karena‚Ķ”
Satu hal yang hanya dapat digawanginya adalah menulis.
Selalu kubantunya mengetik–tak apa. Supaya iba di hati sampai

Turut berduka untuk bapak,
sang juru tulis – yang di medan perang
kehilangan buku-buku jarinya.

Sumber: Pikiran Rakyat, 11 Desember 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *