Puisi: Romusha – Nissa Rengganis (l. 1988)

Nissa Rengganis (l. 1988)

Romusha

Di kereta
Aku menaruh curiga pada banyak orang
Apa yang mereka bawa
Sebuah harapan? Impian?
Atau sekedar tumpukan kenangan yang berjubal bebal

Lelaki di depanku
Matanya menengok ke arah jendela
Kita tahu, di luar hanya hitam
Rumah-rumah menjerit kesepian
Bukankah tak perlu kita memberi nama pohon-pohon sepanjang jalan
Yang lagi-lagi kian menghitam?

Bukankah kita sekedar orang-orang bergegas
Orang-orang simpang jalan yang mengemasi kepedihannya
Ke tempat tak beralamat

Lelaki di depanku terus menengok ke arah jendela
Padahal kita tahu, di sana hanya ada jalan panjang
Jalan sepi penuh bayang romusha
Wajah penuh dendam, tubuh penuh legam
Darahnya adalah hitam yang melukis jendelamu

Di kereta,
Aku kerap merasa berdosa
Duduk manis di atas tumpukan jasad romusha
Peluitnya seperti jeritan yang terus melengking
Membawaku pada masa lalu yang berkejaran

Pada romusha
Ribuan tubuh yang tertidur lama
Serupa dongeng. Serupa bayang-bayang
Aku curiga apakah lelaki di depanku
Yang terus mengengok ke arah jendela adalah romusha?

Jogja-Cirebon, 2014

Sumber: Hari Raya Puisi (Yayasan Hari Puisi, 2018)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *