Puisi: Ngaben – Riki Dhamparan Putra (l. 1975)

Riki Dhamparan Putra (l. 1975)

Ngaben

Api yang tak mati. Sudahkah kau basuh
tangan yang menyulutnya
seterik ini?
Barangkali di celah jari itu masih
ada sisa daging
Dan kukumu mungkin retak
Hingga tangismu yang suci sia-sia
dihapus peluh
orang banyak

Sebuah kereta tiba dengan pintu terbuka
Orang-orang lalu menyerbunya. Kau lihat?
Mereka tak ubahnya kanak-kanak
yang tak sabar
di hari tamasya
Karena itu ikutlah
agar jalan-jalan kembali hening
dan masa lalu bisa dibagi seindah kembang coklat
yang mekar
di pucuk-pucuk daging
Para leluhur mungkin tak pernah mengenalnya
Tapi hari ini orang-orang itu datang untuk
mencecap manisnya, lalu menghabiskannya.
Tidakkah kau lihat?

Burung-burung kayu itu terbang
Dan naga-naga itu menyala laksana
benteng api

(Seorang sahabat telah dimusnahkan
Dan abunya menjelma kupu-kupu yang lepas
di sungai-sungai
tanpa malam)

Sesekali ia pulang
Bertanya tentang kerlap lampu-lampu
di sanggah halaman
Ya, ia tak kan ke mana-mana
selama kartu-kartu di meja itu masih terbuka
dan perjudian ini masih tetap suci
untuk disajikan di altar hampa
bunga-bunga

Ia masih di sini selama sayap-sayap
masih menitik darah
dan taji-taji masih tajam
menoreh gelap warna tanah. Ia tak mati
Apakah yang mati? Api?
Api tak pernah mati. Saat ini bahkan
ia sedang menggila melalap kayangan
beranak-pinak seperti jamur yang tumbuh liar
di hutan-hutan

Dusun-dusun terik. Gurun-gurun kering kerisik
Anak-anak bermain gasing di padang-padang gatal.
Mereka seperti orang asing! Orang asing yang nakal!
Turun dari planet-planet tak dikenal
Sementara lidahmu
masih pahit oleh rumput. Dan matamu makin buram
oleh dongeng-dongeng indah
tentang kabut

Betapa ketinggalan. Sialan! Tapi lihatlah kereta itu
sudah berangkat sebelum kita gerah
pada debu
yang mengusung jasad
Tugu-tugu meninggalkan batu. Hidup adalah rahasia
yang tampak megah
dalam pesta kematianmu

2004

Sumber: Jendela Sastra, 15 Februari 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *