Puisi: Memasak Daging Kurban – Riki Dhamparan Putra (l. 1975)

Riki Dhamparan Putra (l. 1975)

Memasak Daging Kurban

Hari yang gemilang. Biarlah hari ini tetap diingat
sebagai hari yang gemilang
Hari daging dan belanga
Aroma pandan dan jeruk nipis membasuh amis
bau udara

Hari ini aku membaringkan sajak-sajakku
di antara hewan kurban
Sajak-sajak manis dan sedih
Sajak-sajak yang pilih kasih.
Aku menjagalnya. Dengan ridha Tuhan
aku mengembalikan darahnya
kepada rumput dan sari tumbuhan
kepada tanah dan air
kepada cahaya

kepadaMu yang memiliki semuanya
Berilah sajakku jalan
Biarlah ia mengepul serupa sup hangat di meja makan
Ia ingin menjadi bagian dari keluarga
Menjadi nenek, menjadi burung kakak tua.
Sajakku ingin tertawa
ia ingin bahagia dengan gigi palsu
yang telah lama menggigitnya

O, berilah kesempatan.
Kukuslah anganku dengan uap daun di dalam dandang
biar ia wangi
biar ia padu menjelma getah dan tepung pisang
berilah pula lidah
berilah pula sepasang tangan indah
biar ia peka mencecap
biar ia menghidang
buat seluruh penghuni rumah

Bila ada tetangga datang
Bila datang penagih utang
Biarlah sajakku melunasinya dengan sebait janji lagi
: sajakku tak akan lari!
Ia akan berdiri di pintu depan
Menunggumu dengan sepotong penganan ringan
sebilah pisau
dan mata bulan

Sajakku akan bersulang
Ia akan semerbak bagai mawar yang menghilang
dari jambangan
Mawar yang telanjang

Bila suatu hari sajakku pergi jauh meninggalkan kampung
Bila suatu hari sajakku letih mendaki gunung-gunung
Biarlah aku pasrah padanya
Biarlah aku dikembalikan
serupa sungai-sungai mengembalikan bayi-bayi
kepada Ibunya
bayi-bayi cinta
bayi-bayi yang sempurna karena derita

Atau aku akan turun ke sumur dalam di tengah hutan
yang di dasarnya seorang bocah nyaris beku
menunggu pertolongan

Dan bila musafir itu tiba
Sajakku tinggal rangka
Nyawanya telah diambil untuk menebus impian
para pendeta

KepadaMu yang mengunci dan membuka seluruh rahasia
Sajakku telah kukorbankan
Darah dan dagingnya telah kubasuh dengan penyesalan
Seperti Nabi Yunus
Bernafas dengan insang ikan-ikan

Kini ia memohon ampunan
Terimalah usianya yang tua

Ribuan tahun sebelum Babylon dan Mesopotamia
Jutaan tahun sebelum Kaisar Cyrus menegakkan
tiang-tiang istananya
Sajakku telah menjadi kubur yang terjaga
Ia mematahkan sayap burung gagak
Menebus kematian dengan mahkota di jambul si burung merak
Seorang pemburu tak bisa mendekatinya
Karena seorang pemburu adalah pencuri
Sebelum sampai
Ia akan diterjang oleh panah-panah api yang dibawanya sendiri

Dan di malam kelam
Sajakku kadang datang seperti angin di tingkap
Mengetuk pintu dan kaca lampu
Menghembuskan harap yang telah padam
Kadang aku mencarinya di jaritan benang pada tikar
pada bayang-bayang bunga di sarung bantal
Namun aku tak pernah dapat menemukannya
Aku hanya bisa mendengar suara hatiku sendiri
yang masih belia
Tidakkah sajakku yang meronta seperti Ismail kecil
di tengah gurun pasir
Ketika di antara Sava dan Marwa
Budak hitam yang mulia itu berlari-lari
mencari sumber air?
Sajak telah memberinya telaga
Dari kasih yang kudus
Rahmat yang tiada putus
Sajakku, wahai Engkau
Terimalah di tempat yang terbaik
Buatlah ia putih seperti kain kapan penutup badan
Ketika di hari yang penuh berkat
cinta disempurnakan dengan bakti dan pengorbanan

Kalau di sini suara hujan masih tersedu
Kalau di sini bumi masih merintih untuk melahirkan
seorang yatim piatu
Biarlah sajakku menjadi Ayah Ibu.

Maka biarlah terus kuingat,
biarlah terus kucatat.
Di hari yang gemilang ini aku
merindukan semua yang pernah diberikan sajak kepadaku;
sekilo daging di belanga,
santan garam,
aroma serai dan daun kunyit
menimbang amis hidup kita

Semoga menjadi nikmat, semoga menjadi berkat.

Denpasar, 2007

Sumber: Jendela Sastra, 15 Februari 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *