Puisi: Lagu di Atas Debu – Sugiarta Sriwibawa (l. 1932)

Sugiarta Sriwibawa (l. 1932)

Lagu di Atas Debu

Kilas lampu merancasi atap pondoknya
Menusukkan sinar dan derung jalan raya
Menerpa tanah, dinding dan wajah
Dada bertarung di lekuk perutnya

O anak, pintu dan mimpimu
Telah kauhembus dengan teriak lafasmu
Kudengar tersengal, melonjak-lonjak kering
Menghilir gang, pecah di trotoar terbanting

Inilah jalan raya, lagu yang harus kaudengar
Dunia terang ke balik-balik pagar
Alur sibuk melambungkan hari
Kesucian hati hanya ditawar janji

Lagumu rindu parah tersiksa
Gemetar terseret alun pipimu
Pecah terpencil suara lengkingmu
Menyahut terlepas, menarik terkibas

Betapa aneh lampu-lampu menghitung langkahmu
Senyum-senyum sinarnya terlalu keras
Luyak beliak mencakar mukamu
Kini kutahu lampu-lampu itu menampar pedas

Debu debu melamur melabur
Dalam mulut ludah keringat
Tengadah, bulan yang lena di atas Jakarta
Terbaring atap-atap sayap cahaya

Bulanku, wahai bulanku melambailah
Terlampau goyah lututnya menjejak bumi
Terdampar keras dari arus kota gemilang
Pedas meremas luluhnya mimpi

Nyanyimu lelah, telah kuseru bulan
Terlalu tinggi dari tiang tulangku
Melengkung-lekuk dipapas deru nafsu
Keringat kota di lembab kali

Menitis bulan tersenyum kali
Di sini, di sini anakku yang rindu
Kurangkul kulipur sayang mamakmu
Di sini, ya di sini kubur keluh keluargamu

Lagumu anak, gelita bebas mataku maklum
Sawur luluh kucam legam teriakmu
Telah kuhisap pahit debu gemilang
Telah kuhirup getir lumpur cemerlang

Masih kulihat sekejap kau melihat cepat
Regang tulang rayap jalan kota
Sampai derung pesawat raksasa menyorot
Menerkam menyeret arus lagu jalan raya

Nyanyimu sayup kudengar masih
Terbang di atas kota melayang
— Tiada kunyana begini mereka
Mengantar nyawa sampai ke bulan

(kepada anak gelandangan
yang mati di jalanan)

Sumber: Garis Putih (Balai Pustaka, 1985) via Tonggak 2 (Gramedia, 1987)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *