Puisi: Musim Kemarau – Irvan Syahril (l. 1997)

Irvan Syahril (l. 1997)

Musim Kemarau

(1)
Ini musim kemarau panjang di dada
debit air surut perigi kehilangan
wajah-wajah penimba air
yang kadang menjatuhkan cintanya.

(2)
Matahari membadik jalan raya kota
semakin tinggi semakin berang
orang-orang kepanasan
tempat teduh rindang pohon ranggas.

(3)
Angin mendesus lebih keras dan sakau
daun-daun pontang-panting di halaman
sebuah berita kepergian dalam koran
telah terbalik lebih cepat kali ini.

(4)
“Lalu apa yang kita kerjakan?”
Menunggu terus menunggu sesuatu
mengakhiri derita yang nyaring
semakin nyaring setiap malam penghujan.

Serpihmimpi, 2018.

Sumber: Lampung Post, 27 Januari 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *