Puisi: Penggali Batu Kapur – Kirdjomuljo (1930-2000)

Kirdjomuljo (1930-2000)

Beginilah ia berjanji
dengan irama guyur batu
hingga ladang berderak
burung-burung merendah
merasa betapa berat langit
betapa berat hati
angin menggantungi sayap
kabut meradangi arah

Entah ia melepas dera
entah bertahan dari derik
atau tertantang keras batu
nyanyinya sederas getar derita
langsung mengenai dasar
darahku memutih
tulang menyusut
– Hula hule hula ho oo
hula hule hula oo

Begitu berat melepas
sekejap datang sekejap hilang
ditiupkan arah angin
matanya pudar hijau kapur
dahinya hitam-hitam batu
peluhnya deras putih letih
jejak makin dalam
lagunya makin memanjang
hilang lepas-lepas

Ketika satu berhenti mengayun
ia memandang padaku
bersenyum, senyum ladang
bertanya dengan suara bukit
– tuan heran memandang kami
kami lahir di tanah kapur
anakku empat, anakku putih
mata ayah hidung ibu
gelaknya melepas angin

– Aku terharu bapa
seluruh umur di tanah kapur
kulit bapa hitam batu
mata bapa jernih kapur
cinta berlebih, dari yang lain
hati bapa hati belerang
cinta alam sekeras bintang
tak pernah kujumpakan
di manapun

– Begitu bercinta umur
tapi jangan tuan terlalu lama
memandang kami
jangan menerima seperti kami
sebelah utara ada laut
sebelah selatan ada pantai
kalau kami tak berjanji
pada diri dan kebun halaman
sudah bukan lagi penggali kapur

Salam tuan
marilah turut menyanyikan
akan tuan rasa nanti
getar apa tersimpan di hati
getar di hati kami

hula hulee hula ho oo
hula hulee hula ho oo
getar dalam hitam malam
getar jauh biru laut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *