Profil Penyair: Wing Kardjo Wangsaatmadja (1937-2002)

Oleh Dedy Tri Riyadi

“SAYA menjadi tidak bisa membayangkan akan lahir lagi penyair setangguh Rustandi Kartakusumah, Wing Kardjo atau Karno Kartadibrata yang sanggup hidup membujang demi puisi,” ujar Acep Zamzam Noor, pada suatu kesempatan di 2006, ketik ia harus membahas kepenyairan di Jawa Barat dan membandingkannya dengan masa lalu.  Tiga nama penyair yang disebut Acep, tentu saja juga sangat penting bagi Indonesia – bukan hanya Jawa Barat.  Dan nama Wing Kardjo ada di situ.

Penyair Soni Farid Maulana dalam tulisannya “Mengenang Wing Kardjo” di Harian Pikiran Rakyat tahun 2011 mengatakan Wing Kardjo Wangsaatmadja (nama lengkapnya, tapi jarang ia pakai) adalah penikmat romantika kehidupan, termasuk di dalamnya adalah dunia malam. Wing, dalam tulisan itu, selalu bilang bahwa di dalam sumber nilai yang negatif, selalu ada celah menuju nilai-nilai positif.

Keyakinannya pada hal-hal yang positif, bisa jadi dipengaruhi kejadian yang tak menyenangkan, misalnya mengalami perploncoan ketika hendak melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia yang mengakibatkan beliau mendapat perawatan RSUP bagian syaraf, tetapi justru mengantarkannya pada karir yang cemerlang setelah melanjutkan kuliah di UNPAD, lalu mengajar sebagai asisten dosen dan dikirim ke Perancis tahun 1962.

Meski banyak menulis dengan tema cinta, Wing Kardjo tidak serta merta menjadikan cinta sebagai hal yang indah semata. Cinta, dalam satu-satunya novel tulisannya yang berjudul Topeng justru menurutnya tidak bebas dari kemunafikan.

Wing Kardjo memperoleh gelar “Docteur de Specialite en Etudes Extreme-Orientale” dari Universite Paris VII dengan disertasi Sitor Situmorang: la vie et l’Oeuvre d’un poete indonesien di tahun 1981.

Selepas itu, hidupnya diwarnai dengan kegiatan mengajar baik di berbagai lembaga seperti Seskoad, Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, Fakultas Sastra UNPAD, sebelum hijrah sebagai guru besar di Tokyo University of Foreign Studies pada tahun 1984 hingga 1990, dan akhirnya ke Tenri University, Tenri, Nara, Jepang tahun 1991 hingga menutup usia pada 19 Maret 2002, pada usia 65 tahun. Wing lahir di Garut 23 April 1937.

Sebagai penyair, beliau pernah mengikuti Festival Penyair Internasional di Rotterdam, di Belanda tahun 1977. Beliau sudah melahirkan beberapa karya seperti Selembar Daun (Pustaka Jaya, 1972), Perumahan (Budaya Jaya, 1975), selain itu ia juga menerjemahkan sajak misalnya yang dibukukan dalam Sajak-sajak Perancis Modern dalam dua Bahasa (1972) dan prosa Pangeran Kecil karya Antoine St. Exupery (1979).

Puisi-puisinya selama di luar negeri, dikumpulkan dalam kumpulan puisi Fragmen Malam (Pustaka Jaya, 1997) dan Pohon Hayat: Sejemput Haiku (Forum Sastra Bandung, Mei 2002), dan novelnya yang ditulis sebagai Topeng: Suatu Cerita Panjang, diterbikan oleh Pustaka Obor, Yayasan Obor Indonesia tahun 2002. Wing juga menulis esai dan cerita pendek.

Dari Wing Kardjo, Soni Farid Maulana mencatat satu pelajaran:   ketika seorang penyair menulis puisi, maka apa yang ditulisnya itu merupakan sebuah dunia yang otonom, yang tidak harus patuh dan tunduk pada setumpuk nilai-nilai yang selama ini dianggap tabu oleh masyarakat bila dilanggar.

 

Sajak-sajaknya:

1. Piknik 55
2. Waktu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *