Esai: Adakah Ketegangan Antara Penyair dan Prosais dalam diri Kurnia Effendi?

Oleh Hasan Aspahani

AKU PERCAYA
Sajak Kurnia Effendi

Kutinggalkan tanah Taliwang di akhir siang
Berbekal cindera mata: sarung tenun untuk anak lanang
Memasuki arus padat, merayap di segala tempat
Kudengar seruan azan di tengah jalan mampat

Jauh dari tanak ketika salat kerap dijamak
Meski menjadi hak bagi pejalan, musafir yang dimudahkan
Selalu teringat untuk berperan sebagai insan yang manfaat
Kesempatan itu tiba dengan menghalau galau hati sahabat

Hidup ini tak semata lurus dan berjajar serupa galaran
Di tengah kegembiraan acap tiba satu dan dua soal
Serasa jiwa kita diremas dalam ikatan bak jumputan
Ditenggelamkan ke dalam belanga nila hingga tersengal

Aku percaya telah Kauturunkan cahaya di sudut-sudut gelap
Namun tak semudah itu sepasang tanganku menangkap
Dalam banyak nasihat, diminta membuka akal dan nurani
Membuktikan hidayah itu tak datang hanya sekali

Jakarta, 4 Ramadan 1434 H. – Rumah Anggit

 

KURNIA Effendi seharusnya juga lebih banyak kita apresiasi sebagai penyair produktif di samping penulis cerita pendek dan novel yang handal. Kepenyairannya sejauh ini agak lepas dari perhatian kita dibandingkan sosoknya sebagai penulis prosa.

Padahal sebagaimana diakuinya di buku puisinya Senarai Persinggahan (Pustaka Senja, September 2016), “….ternyata lebih banyak buku kumpulan cerpen dibanding buku kumpulan puisi yang saya umumkan. Padahal, jumlah puisi saya ribuan, sementara jumlah cerpen saya hanya mencapai ratusan.”

Memang tidak salah jika kita lebih mengenal sastrawan kelahiran Tegal, 1960, ini, sebagai penulis prosa ketimbang penyair. Ia yang sudah menulis 38 tahun sejak 1978 ini telah menerbitkan delapan buku prosa (kumpulan cerpen dan novel) dan hanya dua buku puisi (Kartu Nama Putih, 1997 dan Mendaras Cahaya, 2012).

Mungkin memang ada semacam ketegangan, atau kegamangan, apakah seorang penulis harus lebih intens di jalan prosa atau puisi. Kita tahu, Sutardji Calzoum Bachri adalah penulis prosa yang unggul juga. Cerpennya muncul di Horison nyaris bersamaan bersama puisi-puisinya. Rendra pun menulis dan menerbitkan buku kumpulan cerpen yang sangat bagus. Sapardi Djoko Damono dalam beberapa tahun terakhir makin intens menghasilkan prosa berupa novel.

Majalah Horison, No.4, Tahun IX, April 1974, memuat wawancara Sapardi Djoko Damono dengan Budi Darma. Sapardi bertanya, “Saudara menulis puisi, cerpen dan esai. Manakah yang paling sulit saudara kerjakan?”

Budi Darma menjawab: pada dasarnya semua orang bisa menulis puisi, tapi hanya sedikit orang yang bisa menulis puisi yang betul-betul puisi. Untuk menjadi penulis, entah cerpen, novel, drama maupun esai seseorang harus menjadi penyair terlebih dahulu.

“Dan orang yang dapat menjadi penyair setelah melalui stadium pertama adalah orang yang benar-benar mengagumkan. Untuk menjadi penyair yang benar-benar penyair orang pun harus melalui stadium sebagai penyair terlebih dahulu. Ya, menulis puisilah yang paling sulit,” kata Budi Darma.

Jawaban Budi Darma tentu saja khas situasi beliau. Tarik-menarik antara prosa dan puisi di dalam diri seorang penulis pasti berbeda-beda kasusnya. Tapi, dari situ kita bisa tahu bahwa ketegangan itu memang ada.

Ada pengarang yang harus menyeimbangkan atau mendamaikan ketegangan itu dengan cara yang unik . Namanya Gustafrizal Busra. Saya pernah bertanya apa bedanya dia sebagai penyair dan pengarang prosa, sebab pada dua genre itu dia sama kuatnya. “Saya benar-benar harus menjadi dua orang yang berbeda, Gus Tf adalah penyair, dan Gus Tf Sakai sebagai prosais,” katanya.

Kurnia Effendi tampaknya sejak awal tak terlalu terganggu oleh ketegangan itu.

Pengakuan sebagai penyair sebenarnya sudah ia sandang sejak mengikuti Mimbar Penyair Abad 21 pada tahun 1996. Puisi-puisinya selancar cerpen-cerpennya. Itu bisa kita lihat di buku Senarai Persinggahan yang satu puisinya kita kutip untuk dibahas di sini.

Di dalam puisi “Aku Percaya” ini, dan puisi-puisi lain di buku ini, Kurnia Effendi, sepenuhnya menjadi dirinya sendiri. Buku ini adalah catatan personal. Ia mengolah – mencatat dan merenungkan makna – peristiwa sehari-hari ketika ia berinteraksi dengan kota, lalu lintas, kantor dan pekerjaan, perjalanan, manusia dan tentu saja pertemuannya yang karib dengan Tuhan. Benar-benar semacam jeda, atau persinggahan dari yang rutin, sebagai mana dengan pas ia pilih menjadi judul buku ini.

Bila saya tak bosan membaca buku ini dari sajak ke sajak itu karena ada cara ucap yang akan jadi khas pada Kurnia Effendi sebagai penyair. Ia mengolah perumpamaan dari dunia batik. Pada sajak ini ikhtiar itu kita temukan di larik ini: Serasa jiwa kita diremas dalam ikatan bak jumputan / Ditenggelamkan ke dalam belanga nila hingga tersengal.

Jika menulis novel itu kita ibaratkan lari jarak jauh, menulis cerpen itu seperti lari cepat dalam jarak pendek, maka menulis puisi itu seperti yoga, semacam gerak di tempat lalu kita berkonsentrasi pada pengaturan napas, menyeleraskan raga dan minda.

Kurnia Effendi, kita lihat, sekarang punya waktu banyak untuk melakukan yoga. Tentu kita percaya bahwa staminanya masih sangat kuat, dan kita tidak akan terkejut jika dia masih ada barisan depan dalam sebuah lomba lari maraton atau mengerahkan tenaga di lintasan pacu lari cepat.

Para pengarang dan penyair baru yang kurang berlatih jangan berkhayal bisa dengan mudah menyalip Kurnia Effendi, salah seorang juara bertahan, pelari handal dengan napas panjang, di jagad sastra kita saat ini. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *