Dari Kami: Bagaimana Kami Memilih Puisi untuk Hari Puisi?

APAKAH Hari Puisi hanya memuat puisi yang sudah dimuat di buku, majalah, dan koran? Apakah Hari Puisi hanya memuat penyair yang sudah jadi?

Dua pertanyaan itu kerap diajukan kepada kami di bulan pertama Hari Puisi hadir. Jawabannya: tidak. Tapi saat ini – setidaknya sampai situs ini resmi diluncurkan nanti – kami hanya melakukan itu.

Kami mengumpulkan seteliti mungkin nama-nama penyair Indonesia dan memilih lima sajaknya untuk ditampilkan. Itu yang kami sebut sebagai Antologi Tumbuh, sebuah antologi yang jumlah puisi dan penyair yang termuat di sini terus bertambah. Sebuah upaya untuk menjadikan  Hari Puisi ini sebagai Tanah Air Para Penyair Indonesia.

Bolak-balik, kami melacak ke hulu puisi Indonesia sejauh yang bisa kami lacak, dan kembali ke hilir untuk menemukan penyair dan puisi Indonesia yang sudah kami anggap ‘sajak yang menjadi’ yang menawarkan ‘sebuah dunia’ sebagaimana disebutkan Chairil Anwar dalam pidatonya, pada 1943.

Puisi yang kami pilih, di tahap awal atau tahap pengembangan situs Hari Puisi ini sedapat mungkin kami anggap mewakili perkembangan dan pencapaian penyairnya dan menawarkan tema dan gaya ucap yang memperkaya khazanah puisi Indonesia.

Kami tak ingin dan memang tak perlu terburu-buru. Semua akan dapat tempat, dan semua akan dicatat. Kenapa sajak yang sudah dimuat atau yang sudah dibukukan yang dipilih? Itulah cara termudah. Pertama, tentu si penyair tak sembarang membukukan puisi. Kedua, dengan mengambil sajak yang sudah dipublikasikan di koran dan majalah kami sebenarnya menumpang kerja redaktur yang tentu tak sembarang pilih. Media dan redaktur sastranya sesungguhnya telah bekerja banyak untuk puisi Indonesia.
Sajak-sajak yang dimuat di koran dan majalah itu banyak dimuat ulang di berbagai blog. Disalin dan ditayangkan begitu saja. Kami memilih juga dari sana, dan menampilkannya dengan memperlakukan puisi sebagai satu individu teks yang utuh. Maka, di Hari Puisi, satu puisi ditampilkan pada satu halaman sendiri.

Pada tahap kedua nanti, baru kami akan memuat puisi yang dikirim oleh kawan-kawan penyair. Dan untuk itu semoga kami sudah mampu membayar honorarium yang paling pantas. Beberapa proposal kerjasama dan bantuan kerja sama yang kami ajukan ke beberapa pihak sepertinya mendapat sinyal bagus. Semoga.

Sebulan bukan waktu yang pantas untuk menilai sebuah permulaan pekerjaan yang tak tahu di mana batasnya ini.  Kerja memang belum selesai dan belum apa-apa.

Jakarta, 1 Maret 2017

33 thoughts on “Dari Kami: Bagaimana Kami Memilih Puisi untuk Hari Puisi?

  1. Tanah air penyair ini perlu terus disuburkan dengan puisi2 warganya, hingga ia tumbuh merimbun.

  2. INI SEBUAH USULAN, KARYA PUISI SEMSTINYA TIDAK MELULU YANG DIMUAT BUKU ATAU KORAN SAJA. JIKA ADA KESEMPATAN SEPERTI INI, SIAPA TAHU AKAN MELAHIRKAN NAMA PENYAIR BARU NANTINYA. JANGAN ADA DIkOTOMI LAGI. KAN SuDaH ADA GAWANG PARA PENYAIR SEBAGAI LINTASAN BAGI KAMI. TRIMS

    • Kami juga memuat sajak-sajak yang dikirim oleh penyairnya. Siapa tahu? Bukan hanya siapa tahu, tapi harus selalu lahir penyair-penyair baru. Dikotomi? Kami tak membuat penduaan apa-apa. Kesempatan sama saja bagi siapa saja untuk menjadi penyair baru yang hebat. Penyair lama pun bisa berhenti, tak lagi bisa menulis puisi. Semua penyair bagi kami sama saja dan kami hanya melihat pada satu hal: karyanya… Terima kasih.

    • Kami tak berwenang melahirkan penyair baru.

      Kenapa sajak yang kami pilih umumnya adalah sajak yang dari buku dan koran? Karena itu sudah melewati seleksi dari penyairnya sendiri, editor, redaktur. Belum tentu pasti kami setuju dengan seleksi itu, beberapa kami ambil langsung dari kiriman langsung.

      Dikotomi?

      Kami ingin penyair yang datang kemudian bikin lintasan baru, bukan sekadar melalui jalan yang sudah ada…

  3. Sungguh indah, akhirnya ada rumah puisi Indonesia. Semoga bisa jadi tempat tinggal yang nyaman bagi para penyair dan calon penyair SE Nusantara, dengan berbagai corak dan ragamnya……

  4. Semoga hari puisi indonesia tetap berjaya dan melahirkan penyair baru dengan pemikiran baru.Salam sastra!

    • Kami tidak memuat puisi berdasarkan perwakilan wilayah. Puisi yang dimuat mewakili penyairnya saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *