Esai: Membaca Puisi – Permainan Semiosis

Membaca Puisi – Permainan Semiosis

Oleh Hasan Aspahani

  1. Manusia adalah homo signans, makhluk yang selalu mencari makna pada segala fenomena yang ada di sekitarnya, juga di hadapan atau terhadap puisi. Apatah lagi, puisi memang dihadirkan oleh penyair sebagai seni dengan medium bahasa yang pencapaiannya antara lain diukur dengan keberhasilannya memuatkan atau memadatkan makna dan emosi. Puisi adalah permainan makna, kata Sapardi Djoko Damono. Sebuah permainan semiosis, sebutan untuk proses memaknai atau pemaknaan, dalam ilmu semiotik.
  2. Dengan cara pandang semiotik itu maka puisi adalah tanda. Secara luas tanda adalah segala hal baik fisik ataupun mental, baik di dunia maupun di jagat raya, baik di dalam pikiran manusia maupun sistem biologis manusia dan hewan, yang diberi makna oleh manusia. Tanda bisa hadir sebagai gejala alam atau produk akal budi manusia.
  3. Produk bahasa, gambar, teks, gerak, aroma yang bisa dimaknai adalah tanda. Maka ketika ada  penyair yang menghadirkan puisi sebagai teks tak lagi hanya dihadirkan sebagai bahasa, tapi juga dengan gambar, gerak, atau bahkan aroma, maka ia tetap sebagai tanda yang bisa dimaknai. Semiotik sudah memberi tempat pada eksperimen semacam itu.
  4. Kebutuhan untuk memaknai tanda itu melahirkan disiplin ilmu Semiotik. Semiotik adalah salah satu cabang ilmu yang mengkaji perihal tanda dalam kehidupan manusia. Apapun yang bisa dimaknai manusia disebut tanda. Tanda selalu berdampingan dengan makna. Dengan demikian, dengan memakai kacamata semiotik puisi harus diterima sebagai tanda dan berisi jalinan tanda-tanda yang bisa dimaknai.
  5. Semiotik bekerja dengan memperluas wilayah perhatian pada linguistik. Linguistik berfokus pada aspek verbal (bahasa). Semiotik mencakup aspek verbal itu juga dan non-verbal (gambar, warna, gerak tubuh, gejala alam, dll). Bisa dikatakan semiotika lahir dari rahim linguistik. Adalah Ferdinand de Sausure yang teori linguistiknya membuka jalan ke apa yang ia sebut sebagai semiologi, apa yang kemudian berkembang sebagai semiotik.
  6. Jika puisi adalah tanda maka, dalam kerangka semiotika, pembaca puisi adalah pemakai tanda, pihak yang hendak memanen makna dari tanda-tanda itu. Pemaknaan, atau semiosis berlangsung dalam tiga tahap: (1) pencerapan – indera menangkap wujud luar tanda; (2) perujukan – pemakai tanda mencocokkan tanda itu dengan konsep yang ia kenal atau diwakili oleh tanda itu. Jika pemakai tanda berhenti di situ, maka pemaknaan sudah menempuh setengah jalan, setengah semiosis. Puisi yang baik memikat pembaca atau pemakai tanda untuk masuk hingga setengah semiosis, kemudian menawarkan kenikmatan lain untuk menyelesaikan proses selanjutnya, yaitu melakukan (3) penafsiran. Semakin baik puisi, semakin banyak makna yang bisa dipanen dari proses semiosis ini.
  7. Semiotik berkerabat dekat dengan hermeneutik, disiplin yang sesungguhnya berkembang lebih dahulu. Semiotik mengkaji tanda dalam kehidupan manusia. Hermeneutik adalah kegiatan atau kesibukan untuk menyingkap makna sebuah teks.
  8. Apakah teks? Apa hubungannya dengan tanda? Teks dalam hermeneutik dipahami sebagai maujud atau entitas yang mengandung jejaring makna atau struktur simbol-simbol, yang tertuang sebagai tulisan atau bentuk-bentuk lain. Maka apapun yang mengandung  jejaring makna dan struktur simbol-simbol bisa disebut sebagai teks. Teks dengan demikian bisa berupa perilaku, tindakan, norma, tata nilai, benda kebudayaan, obyek sejarah.
  9. Batasan tanda dalam semiotik dan teks dalam hermeneutika segera bisa kita lihat sesungguhnya punya irisan yang besar, bahkan bisa dikatakan sama. Meskipun nanti kita lihat, semiotik teks juga punya definisi sendiri tentang teks. Tanda yang dimakna dengan proses semiosis adalah teks yang menantang untuk dipahami maknanya karena di dalamnya terkandung jejaring makna dan struktur simbol-simbol.
  10. Teks menurut semiotik adalah suatu satuan kebahasaan (verbal) yang mempunyai wujud dan isi, yang harus memenuhi beberapa kriteria: kohesi (unsur-unsurnya terkait secara semantis), koherensi (isinya memenui logika tekstual); intensionalitas (disusun dengan maksud tertentu); keberterimaan (berterima bagi pembaca); intertektualitas (mempunyai kaitan dengan teks lain); informativitas (mengandung informasi atau pesan).
  11. Pada umumnya, puisi yang baik barangkali adalah teks yang degil. Ia bermain-main di batas rawan kriteria-kriteria teks yang disebutkan di atas. Begitulah seharusnya seni hidup, mengembangkan, dan dipertahankan hidupnya. 
  12. Teks sebagai tanda, menurut Barthes, harus dilihat sebagai maujud yang memiliki segi ekspresi dan isi. Merujuk penghubungan Barthes ini, dan definisi teks menurut semiotik yang disebutkan di atas, maka puisi adalah teks, yang bisa diletakkan di meja analisa semiotik sebagai tanda dan di meja bedah hermeneutik sebagai teks dengan jejaring makna dan struktur simbol.
  13. De Saussure menempatkan bahasa lisan sebagai ranah utama linguistik. Teks – bahasa tulis – hanyalah turunan dari bahasa lisan. Ricoeur sepertinya meneruskan perlakuan ini. Ia menempatkan teks sebagai perwujudan dari bahasa lisan (speech). Ketika seseorang bicara lisan, maka ujarannya terbatas pada apa yang disebut Benny H Hoed sebagai batasan spasiotemporal, terkait tempat dan waktu.  Ketika itu diturunkan dalam bentuk teks maka acuannya berubah, teks menjadi milik pembaca. Di titik inilah semiosis dimulai, dan puisi menjadi menarik.
  14. Meneruskan Barthes (dan saya kaitkan juga dengan De Saussure, dan Ricour) tadi, Benny H Hoed menyatakan bahwa teks dengan demikian bisa dilihat sebagai: (1) satu maujud (entitas) yang mengndung unsur kebahasaan; (2) suatu maujud yang untuk memahaminya harus bertumpu pada kaidah-kaidah dalam bahasa teks itu; (3) suatu bagian dari kebudayaan sehingga tidak dapat dilepaskan dari konteks budayanya dan lingkungan spasiotemporal. Faktor pemroduksi (dalam hal puisi berarti penyairnya) dan penerima (pembaca puisi, pemakai tanda) teks harus diperhitungkan.
  15. Hermeneutika bisa kita tempatkan atau gabungkan terutama pada separuh jalan akhir pada proses semiosis. Hermeneutik oleh seorang pemikirnya memang didefiniskan sebagai bagaian dari linguistik, ilmu pemahamanan linguistik.       
  16. Teks, juga teks puisi, pada hakikatnya adalah milik pembaca. Teks berdialog dengan pembacanya. Ia sepenuhnya menjadi urusan pembaca yang menjadi pengolah tanda (semiotik) dan penafsir makna (hermeneutik).
  17. Teks dengan demikian tak lagi terkait spasiotemporal hanya pemroduksi teks itu, tetapi juga dipengaruhi oleh spasiotemporal pembacanya. Dengan begitu maka terbukalah penafsiran yang bermacam-macam, terkait siapa yang membacanya. Teks menjadi polisemis. Pemroduksi teks hanya menjadi salah satu dari proses semiosis dan hermeneutis, di samping lingkungan teks itu, dan teks lain (intertektualitas).

Sumber rujukan:

  • “Seni Memahami – Hermeneutik dari Scheiermacher sampai Derrida” oleh F. Budi Hardiman (Penerbit PT Kanisius; Jakarta; 2015).
  • “Semiotik & Dinamika Sosial Budaya” oleh Benny H. Hoed (Komunitas Bambu; Depok; 2008).
  • “Sihir Rendra; Permainan Makna” oleh Sapardi Djoko Damono (Pustaka Firdaus; Jakarta; 1999)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *