Esai: Satir dan Sinisme J.E. “Om Jan” Tatengkeng

Satir dan Sinisme J.E. “Om Jan” Tatengkeng

Oleh Hasan Aspahani

Kusuka hidup! Gerakan sukma,
Yang berpancaran dalam mata,
Terus menjelma,
Ke-Indah-Kata.

(“Sukma Pujangga”, J.E. Tatengkeng)

 

SEORANG sinis adalah seorang idealis yang kecewa. Sebagai penyair Jan Engelbert Tatengkeng barangkali adalah orang demikian. Sahabat-sahabatnya mengenangnya sebagai sosok yang ramah, banyak cerita, suka melucu, dan doyan makan kacang.

Hingga ia meninggal pada 6 Maret 1968, pada usia 61 tahun di Makassar (ia lahir di Kolongan, Sangihe, pada 19 Oktober 1907), ia tetap demikian, tapi sajak-sajaknya berubah.

“Sejak 1949 sajak-sajaknya bersifat sinis,” kata H.B. Jassin. Ia menduga itu karena Om Jan –  demikian banyak kerabatnya mengakrabinya – sering melihat kenyataan dalam masyarakat dengan perasaan tidak puas. “Tapi sinisme Tatengkeng adalah sinisme yang halus,” tambah Jassin.

Idealisme Om Jan, dalam hal sastra berwujud kebanggaannya pada bahasa Indonesia, dan  yang langka di kalangan penyair sebelum Pujangga Baru adalah kepecayaannya pada perlunya kritik. Meski ia sebut itu sebagai “penyelidikan sastra”.  

Sikap itu tergambar jelas dalam esainya yang penting “Penyelidikan dan Pengakuan”, 1935. Esai yang ia tulis di Waingapu, Kupang itu,  adalah pernyataan kepercayaannya pada bahasa dan sastra Indonesia, yang kala itu masih berupa ‘tumbuhan kecil’ yang ‘menjanjikan kembang yang indah permai’! Tatengkeng menerjunkan diri mengikut ‘gerakan sukma’, untuk membantu menyuburkan tumbuhan bernama sastra itu.

“Jangan orang berkata seni itu tidak perlu!” katanya. Filsafat seni Tatengkeng adalah filsafat keindahan, manusia memerlukannya, dan puisi mencukupkannya. Tapi keindahan itu harus dikembangkan, terus ditumbuhkan, dirawat, dan disuburkan, karena itu, dan untuk tu Tatengkeng meyakini, kritik sastra diperlukan.   

Kepercayaannya dan kebanggaannya  pada bahasa bisa dilihat dalam dua kuatrin yang secara terpisah dalam lampiran surat yang ia kirim ke dua sahabatnya, Yogi dan Takdir. Untuk kepraktisan kedua sajak berjudul sama itu saya gabung dan saya beri nomor. Barangkali keduanya bagian dari surat bertahun 1935 yang ia kirim ke Pujangga Baru.  

Bahasaku

I
               Kepada Yogi

Kukasih engkau, berkelebihan
Dalam kehalusan dan kemanisan
Akan membawa rindu – keluhan
Dan mengalirkan air tangisan


II
             Kepada S.T. Alisyahbana

Dia mengalir memancar terang,
Dia meloncat menitik beribuan,
Bersiaran bersinar cemerlang,
Mengelipkan warna berganti-gantian

 

Kepada Yogi, Tatengkeng menyatakan kepercayaannya pada bahasa Indonesia, yang halus dan manis, yang mampu menjalankan fungsi ekspresi-estetis.  Kepada Takdir – sang insinyur bahasa itu – ia menegaskan keyakinannya akan kemampuan bahasa Indonesia menjadi bahasa yang lancar, jelas, menjadi bahasa yang kuat dan memungkinkan berbagai cara untuk mengucapkan banyak hal.

Takdir percaya pada kritik. Ia percaya yang menyebabkan pantun, syair, dan puisi lama yang lain mengalami kelemahan dan kelayuan, menurutnya karena tidak adanya kritik yang ditujukan kepadanya. Hal itu berarti bahwa puisi lama tadi harus diberi kritik-kritik demi kebaikannya. Dan kritik paling keras apa lagi kalau bukan menulis sajak dengan semangat isi  dan bentuk yang baru. Maka ia – seperti rekannya sezaman, dan seide – menulis soneta.

Sebagai  putra seorang guru Injil, kepala sekolah zending, Tatengkeng memanfaatkan benar kesempatan untuk mendapatkan pendidikan formal, hingga ke sekolah guru Christelijk  Hogere Kweekschool di Solo.  Ketertarikan dan keterlibatannya dalam puisi dan gerakan sastra bermula di kota itu. Ia berteman dengan Amir Hamzah, sang pangeran dari Barat dan kelak menjadi Raja Pujangga Baru.

Mungkin, bersama Amir Hamzah-lah, Tatengkeng mempelajari puisi-puisi Belanda dari kelompok 80-an itu. Ia sempat memimpin surat kabar Rindoe Dendam, di mana ia menyiarkan sajak-sajaknya. Nama surat kabar itu, yang kelak pada 1934 ia pakai sebagai kumpulan sajaknya yang pertama.

Tatengkeng lalu tenggelam dalam tugas, dan waktunya tersita aktivitas politiknya. Ia pernah menjadi menteri bahkanp perdana menteri NIT pada masa perang kemerdekaan.  Karya-karyanya tak muncul lagi, kecuali sedikit yang disimpan oleh Jassin, sajak=sajak bertahun 1950-an.

Lima sajakny berikut ini memang amat berbeda dengan sajak-sajaknya yang selama ini kita kenal. Jassin benar, ada nada sinis terasa. Ia terasa kecewa pada banyak hal, juga pada sistem dan situasi sosial yang justru memberinya previles.  Dalam hal bentuk dan rasa bahasa, ia juga telah jauh meninggalkan gaya Pujangga Baru itu. 

Perhatikan sajak terakhir dari rangkaian sajak yang kami tampilkan ini.

Sajak yang terbit di Siasat, 16 November 1952, berjudul “Mengheningkan Cipta” itu, ia tulis untuk mengenang Cornel Simanjuntak.  Ia menulis: Kini, / katamu menjadi pengisi buku / disusun guru / yang tidak mengerti sedikit / pesanan jiwamu; / namamu tercatat – no. 115 – / sebagai pahlawan seni / dalam daftar resmi / kepunyaan jawatan kebudayaan. Tatengkeng tak berubah, sesungguhnya, ia sedang menjelmakan “gerak sukma”-nya. Ia kesal karena sejarah perjuangan orang yang berjasa tak diberi harga yang pantas.

Tapi, mana “indah kata” yang dulu ia sebut dalam sajak “Sukma Pujangga”? Ia yang percaya kritik kini mengkritik kepercayaannya sendiri. Sajak-sajak sinisnya, memerlukan tenaga lain. Jalan satirlah yang harus ia tempuh. Keindahan baginya sepertinya adalah mengucapkan apa yang benar, bukan lagi dayu-dayu kata nan  membuai itu.

Karena itu mungkin tak lagi banyak menulis puisi.  Bahkan berhenti sebagai penyair yang kecewa, yang akhirnya hanya bisa mengadu pada sahabat-sahabatnya yang mengerti dan yang telah mati, dengan sinis. Roti manis dan lemper diedarkan orang / acara no. 14 /  Untunglah engkau sudah mati / tidak melihat mendengar / pertunjukan ini.

 

E. Tatengkeng (1908 – 1968)

Aku Dilukis

Olehnya aku disuruh
duduk di terang matahari

Aku merokok dan membaca
menahan panas
tapi senyum tetap ada


Kacamata hitam aku pakai
untuk menutupi jiwa

Tangan pelukis bergerak
sedang teman-temanku
tak berhentinya makan
kacang goreng

Di atas kertas
Aku lahir
persis seperti pamanku
yang punya bungalow
puas, sangat puas.

Bali-Candikuning, 28 April 1951

Sumber: Arsip PDS HB. Jassin.

 

Penumpang Kelas I

Sampai umurku 30 tahun
aku selalu menumpang dek
Kini, berkat perjuangan temanku
dan penyerahan kedaulatan
aku penumpang kelas I

Aku salah seorang
barisan pegawai peninjau
yang mondar mandir
dari pulau ke pulau
membangun tanah air.

Saban malam di salon main brigde
dan minum bir
dan marah-marah sama pelayan.

Aku tak pernah tulis laporan.

Aku turun ke darat,
Aku bayar sesuku pada buruh
dalam bulan Mei tanggal 1.


2-5-’51

Sumber: Arsip PDS HB. Jassin.

 

Aku Berjasa

Sebab aku pernah bersekolah dagang
maka tugasku dalam perjuangan kebangsaan
meruntuhkan kapitalisme
dan ekonomi penjajahan

Aku membangun perdagangan nasional;
saban hari beli susu di tangsi
dan menjualnya di rumah sakit;
begitulah dagangku bersifat amal.

dan olehnya hidup bangsa naik setingkat,
aku beli lemari es dan mobil…
tapi oleh polisi penjajah aku ditangkap,
dituduh mencatut dan berdagang gelap.

Tiga bulan aku berkorban dalam penjara
tahun 50 aku dibebaskan
dan disambut khalayak sebagai pahlawan

Perjuanganku, pengorbananku, jasaku
seluruhnya dihargai orang
Aku dijadikan walikota P.G.P 6d

Tapi kini padaku barulah nyata,
betapa sukar membimbing
dan mengatur bangsa kita
wanita siapa harus duduk di samping
Aku, dalam jaman nasional?

Sumber: Siasat, 6 Januari 1952.

 

Aku dan Temanku

Tak ada suatu makhluk
padanya aku takluk
Di atas batu hitam
Di ujung tanduk
aku berdiri
seorang diri
menantang gelombang
menggertak guruh
membenamkan rasa
mematikan cinta

Gadis manis
anak penyelundup kopra
tersenyum dalam perahu
aku bunuh
dalam hatiku.

Temanku
ikan kecil hijau kuning
bermai-main di tengah karang
mengerling
padaku.


Sumber: Indonesia, Agustus/September 1953.


Mengheningkan Cipta

Enam tahun lalu engkau mati,
sungai di sisi liang kuburan,
hanya tiga orang temanmu
berdiri memegang tongkat.

Kini,
katamu menjadi pengisi buku
disusun guru
yang tidak mengerti sedikit
pesanan jiwamu;
namamu tercatat – no. 115 –
sebagai pahlawan seni
dalam daftar resmi
kepunyaan jawatan kebudayaan.

Dalam malam ramah tamah
sambil lalu
acara no. 12
orang mengenang jasamu;
saat itu pembesar-pembesar negara
ramai menyebut-nyebut namamu.
“Mengheningkan cipta”
komando tukang protokol
semua tunduk, senyum
dan mengerling keliling
“Selesai”

Roti manis dan lemper diedarkan orang
acara no. 14
Untunglah engkau sudah mati
tidak melihat mendengar
pertunjukan ini.


Sumber: Siasat, 16 November 1952.

 

Bacaan:  Moeljono ,  “Drs. J.E. Tatengkeng, Karya dan Pengabdiannya”, (Depdikbud, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional,  Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, Jakarta, 1986)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *