Puisi: Bulan Ruwah – Subagio Sastrowardoyo (1924-1995)

Subagio Sastrowardoyo (1924-1995)

Kubur kita terpisah dengan tembok tinggi
Sebab aku punya Tuhan, dia orang kapir.

Di yaumulakhir
roh kita dari kubur
akan keluar berupa kelelawar
dan berebut menyebut nama Allah
dengan cicit suara kehausan darah.

Kita sudah siap dengan daftar tanya:
Tuhan ya robbilalamin!
adakah kau islam atau keristen
apakah kitabmu; kor’an atau injil
apakah bangsamu: seorang rus, cina atau jawa?

Orang rus itu komunis yang menghina nabi dan agama.
Orang cina suka makan babi. Itu terang jadi larangan.
Orang jawa malas sembahyang dan gemar pada mistik.

Apakah bahasamu, apakah warna kulitmu, apakah asalmu?
Apakah kau pakai peci dan sarung pelekat
atau telanjang seperti budak habsyi hitam pekat
— atau seperti bintang pilem berpotret di kamar mandi?
antara tanda kurung: adakah dia punya Tuhan? —

Daftar tanya kita tandai dengan cakaran hitam
seribu tangan

Tetapi kalau Tuhan tinggal diam seperti tugu

kita akan bertindak desak keputusan:
kita rubuhkan batu bisu
dengan kutuk dan serapah.

Kita kembali bergantung di dahan
dan bermimpi tentang sorga dan Tuhan
yang mirip rupa kita sejak semula:
kelelawar bercicit kehausan darah.


Sumber: “Simphoni” (Pustaka Jaya, cet. ke-3, 1975; cet.1, 1957)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *