Puisi: Jeli Ceri Nostradamus – Nukila Amal

Nukila Amal

Siapkan sekilo buah ceri yang termatang dan terindah.
Bayangkan negeri jauh berladang lapang, bermatahari sekali.
Hiruplah wangi tanah dan buah ceri berjuntai merah
terpetik sejangkauan tangan anak-anak petani di musim panenan.
Yang termanis adalah yang terjatuh, matang terpa tempa angin.
Secercah saja hijau membikin kecut, dan gigimu kedut.

Biji adalah masa depan yang terjanjikan, buanglah.
Masukkan ke panci berpasir gula – sedikit saja,
yang masam akan melarut lupa diri, mengental manis.
Manis sekadarnya, ditunggui sesabarnya.
Aduk sesekali dengan sendok kayu, di atas api biru.
Setengah mendidih, tuang ke dalam kain bersih bertadah
wadah gerabah, peras, peraslah hingga tumpat
kain sekepalan tinggal kulit dan rangka serat.
Masukkan perasan sari ceri ke panci berapi rendah
Hati-tahi dengan lidah apimu, nyalang itu tak perlu
(niscaya menggelegakkan amarah ceri,
urung menyerap yang termerah dari merah dirinya,
tumpah ke luar wadah, hangus berlebam marun ungu).
Untuk menguji, titikkan setetes jeli ceri di atas pualam.
Jika ia berdiam bundar, tak tergoda menggelincir oleh licin,
maka telah cukuplah ia sebagaimana adanya.
Tuang ke dalam bejana kaca, biarkan mendingin oleh nafas angin.
Cahaya terbaik adalah yang jatuh seirisan –
dari tingkap jendela, celah, ronggang… carilah.

Bawa bejana kaca ke arah cahaya, dan lihatlah
Jeli ceri sejernih mirah delima, berkilau cemerlang
menjanji nujuman takdirmu dan umat manusia
Habluran masa depan, sejarah: jerih-payah, (ke)capaian.

Beberapa, ada beberapa, yang akan lebih tersihir menatap
dalam irisan cahaya
titik-titik debu melayang
ringan
tanpa tujuan.

Sumber: Kompas, 24 Maret 2013

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *