Puisi: Percakapan dengan ZI – Rida K Liamsi

Rida K Liamsi

Aku memilih tidur melintasi tahun. Membiarkan suara terompet dan dentum kembang api tenggelam dalam gemuruh sakal. Aku lelap dalam desir yang selalu membuat aku tersihir. Desau yang selalu membuat aku risau. Deru yang selalu membangkitkan rinduku.

Aku ingin bermimpi, seperti pengembara yang mencatat jejak musim yang berlalu. Adakah seperti yang aku janjikan pada Nya ketika aku sujud di awal tahun yang lalu dengan rasa yang tumpah di sajjadah?

Ternyata aku tetap saja masih alpa. Sholatku masih tak utuh dengan beribu dalih. Kanvas hidupku masih penuh warna abu abu. Sedekah ku hanya setetes dibanding limpahan nikmat Nya yang tak habis habis. Aku belum bisa menjadi manusia baru di tahun yang baru. Aku masih seperti seekor keledai yang tak jera berandai andai.

Tapi aku kembali bersujud pada Nya ketika dentang tahun berlalu dan deru angin sakal membangunkan aku. Aku berjanji lagi, mencoba lagi dan berharap setebik waktu lagi. Berharap angin sakal kembali menemani aku, menuju Nya, ke rumah abadi.

Ajari aku zikir gerimis, sahabat ku, biar meski serenjis, aku masih bisa menangis.

Bintan, Januari 2017

2 thoughts on “Puisi: Percakapan dengan ZI – Rida K Liamsi

  1. Liris, lirih Tapi manis.
    Di hadapannya aku tetap anak kecil
    Yang merentang tangan
    Telanjang terkial-kial
    MencobA tetap menggapai
    Meraih tangan tuhan.
    Amsal yang nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *