Puisi: Soerabaia – Mardi Luhung

Mardi Luhung

dukut itu punya tempo doeloe

Buku I halaman 122:
“Ada seorang inlander yang mati
aah, tidak apa-apa. Tiap hari mereka tokh juga mati
apalagi mereka mati seperti tikus-tikus!”

Buku II halaman 440:
Kerja terus! Kau gila! Apa tidak tahu adat! Kau
kurang ajar? Jangan kurang ajar! Pergi! Diam!
Tutup mulut! Ayo, jangan tidur! Jangan omong!
Jangan tertawa! Jangan main gila sama saya!
Buru-buru! Lekas! Buka kau punya mata! Awas!

buku yang lain, halamannya di lubuk, belum tertulis
dan tercetak, atau malah sudah terobek, simpulannya:
di belakang iklan bir, minyak, rokok, teh dan tembakau,
kopi, baju-haji, afdruk-foto, dan kanak-kanak yang
memanjati tiang, serta wajah-garang-marsose, yang
selalu bergaya dengan sepatu botnya, darah bekisar pun
punya bahasa sendiri: “Entah-putih-entah-coklat!”
menegur tilas-tilas hantu pada sebuah waktu, di samping
pinggir-kebun-binatang:
“Kami tak menghasut, percayalah, Tuan, kami tak
menghasut!”

ya, lewat trem yang berkelonengan
si wanita-buruh-arloji itu pun dikawin si kopral yang
bertopi lebar, penutup kening yang bersurat:
“Ini sebenggol, ongkos makan, minum, tidur dan pukulan
untukmu!” Selanjutnya, siapa yang tahu,
jika kampung dibangun dari opium dan banjir?
Dan siapa yang tahu, jika kampung juga dibangun dari
bubur yang warna-warni?

“Hordah, yang mulutnya usil, lidahnya dipluntir!”

Gresik, 2003

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *