Puisi: Pada Sebuah Cafe – Mustafa Ismail

Mustafa Ismail

dalam diam, aku terjemahkan sajak di keningmu
berbaris bagai lampu-lampu di kotamu, dimana aku menemukan
sebuah alamat yang terkoyak
satu pulau yang seharusnya aku tenggelamkan
setelah sejumlah cinta gugur disitu

kau paksa juga aku meminum kehangatan di bibirmu
tanpa sempat berkata “tidak”
padahal aku ingin sekali pergi dan tak ingin meninggalkan
tarian ombak di cangkir minum kita
karena pada akhirnya segalanya harus dituntaskan
supaya tidak ada air mata yang tergenang

“campurlah alamatmu dalam minum kita
seperti kau menjahit malam-malam yang sakit!”
begitu katamu. Aku tak pernah bisa menolak
hingga kemudian menyadari pagi telah sunyi
dan kita sama-sama kembali
Aku harus mengoyak satu alamat lagi
sambil bergegas pergi

Sigli-Aceh, Agustus 1996.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *