Puisi: Cerita Perjalanan – Laksmi Pamuntjak

Laksmi Pamuntjak

Tiap perjalanan mungkin bermula
dari tangga

atau dari kaki yang terseret
sepanjang lorong

di rumah nenek yang tua, di mana
pintu terbuka, mungkin ke bayang

& bekas tinta. Ada pediangan dengan
sisa arang. Sering orang tak bisa tahu

mana ruh mana hantu, dan seperti kunci
yang jatuh ke pasir, kita tertegak

ke arah pusaran, tapi lupa seseorang
yang di sana. Nyanyi terjahit pada langit,

jauh sebelum kota-kota didirikan
dan tanda jalan dan jarak dipasang

Bisa saja angin khianat, ketika sinar
memilih celah,

mungkin kita puji Tuhan yang salah
dan hanya ingat apa yang membuat ladang bercahaya

bagian yang lekat pada peta. Kita tinjau bentangan
dari arah kerak bumi, seakan-akan planet ini

hanya tumpahan kosmis yang tak sengaja.
Gunung mengeriput di bawah matahari, dan laut

cuma air yang merembes ke dalam ruang.
Tapi akhir-akhir ini panas jadi perak,

ketika pulau tenggelam dan ikan terengah
dalam liang hari yang hitam, yang meranggas tak biasa.

Apapun kisah yang kita bayangkan di jalan ini
terkubur di dada si mati, atau selamat karena bulan

dengan wajah sesat seorang dewi. Begitu rupa kiranya,
hingga halaman yang melompat dari kitab

terasa menyentak lembut, mengisyaratkan sesuatu
yang akrab ke kulitmu: sidik jari ibu, tetes peluh bapak

yang lepas dari leher yang menjulur di garis yang sama,
membawanya pergi ke sebuah tempat,

ke sebuah penjuru, di mana burung-burung
terbeliak, menatapmu.

Sumber: Kompas, Minggu, 24 Juni 2012

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *