Puisi: Siklus – Toeti Heraty

Toeti Heraty

sejenak pun tak akan kubiarkan
hiruk-pikuk pikir dan getir
       merasuki hati
hutan belalang yang tak terseberangi lagi
karena kau telah resmi minta diri

resmi bersikap menunggu memberi waktu
       untuk berkemas
melemparkan diri dalam api, ah janda
setia dan perawan suci
       tidak diharapkan
hanya ketulusan untuk berjabat tangan
tersenyum ringan

harapan-dahulu, penyesalan kini
merupakan larangan, hanya menghela napas
       karena berlomba dengan waktiu
menghitung bulan dan hari, pula
membuang kesempatan, karena terlalu segera
sudah sampai di sini saja

menghilang dari hidupku, melepaskan
dekapan bersyarat di atas pulau
terdampar oleh gerak harapan akhir
       bertumpu erat
dengan pertimbangan-pertimbangan getir

di perbatasan, lambaian tangan dan
diam-diam mulai menanggapi tanda-tanda
       penuh arti, suatu bukti
bahwa telah kau redakan pencarian peran
yang enggan menambatkan diri pada usia
antara manusia

karena kau belai dengan kata, hangati
       dengan berahi, membuahi
hati dengan nikmat madu dan pelangi
lembut jari mencari, menjelajahi
bukankah segala ingin kau ketahui?

       segala ingin kau ketahui
karena asing, mungkin tersayang
seperti maut tampak demikian, tidur
       membawa mimpi di peraduan
paduan, dengan yang mesra, dengan kedahsyatan
yang masih asing, yang baru lampau,
yang telah hilang

Sumber: Nostalgi = Transendensi (PT. Grasindo, Jakarta; Cetakan : I, 1995)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *