Puisi: Hari Penghabisan Letnan Dan – A. Muttaqin

A. Muttaqin

Di pondok pelacur itu
ia isap cerutu buntu.

Di pondok pelacuran itu
ia sesap candu keluh.

lalu bernyanyi-nyanyi ia
tentang buntung kakinya
tentang buntung nasibnya
tentang tititnya yang layu
sejak dirajam serpihan bom jahanam itu.

Ingin menari-nari ia
dengan buntung kakinya
menginjak-nginjak takdir
menginjak-nginjak gedung pemerintah
menginjak-nginjak markas tentara
lalu berteriak serak
seperti Louis Armstrong

yang gelap melolong
memanggil tuhan
memanggil setan
memanggil perempuan.

Tidak, si Letnan tak hendak memanggil perempuan
sebab di pangkuannya
perempuan muda tengah mengejang
dengan dada terbuka
dengan birahi terbata-bata.

Di lantai tujuh pondok pelacuran itu
sekonyong-konyong ia melihat Forrest Gump
seperti jin semprul
menyembul dan melambai dari jendela.

Ke sana Letnan Dan menerjunkan diri
dan badannya yang remuk
tergilas mobil patroli.

(2016)

Sumber: Kompas, Sabtu 16 Juli 2016.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *