Puisi: kalam batu – Marhalim Zaini

Marhalim Zaini

: raja ali haji

di sepanjang beting, sepanjang petang
ia berjalan pincang, memikul kalam
dan ingatan yang kian padam
seperti tongkang menuju karam.

aku mengenalmu, ali haji,
seorang datok yang suka berkabar
tentang hikayat kapal-kapal besar
yang bersandar di tepi bandar.
akan datang pada kita, katamu
derita masa silam serupa lada hitam
pedasnya pahit, menggigit sakit.
aku tahu, orang tua selalu begitu
gemetar pada denyar hantu waktu
pada isyarat-isyarat yang berkejaran
di jarum jam, ke ufuk sebuah zaman,
ke kegelapan, ke kematian.
               untuk apa senapang itu, tuan?

orang putih telah lama pergi
sehabis merayau pulau-pulau
memamah rempah-rempah.
di sarungmu, sisa abu mesiu
membercak seperti darah beku.
alahmak, gadis portugis itukah
yang berjalan kaki ke muaratakus
mengejar bau kemenyanmu,
bau batu-batu candi melayu.
aku ragu, sejarah itu jadi peluru
menembus-balik hatimu
yang rawan candu rindu.
               dari tumasik aku bertanya,
               semenanjung ini, siapa punya?

sekejap saja, mata kita leka
ribuan bedil mengintip istana
dan dikau, tersebab cuai
pernah tersadai di tiang balai
mengutip gurindam yang terburai.
dan di melaka aku tersedu
sebuah perahu disumpah
jadi batu.
               sebuah negeri yang kandas, katamu.

lalu dari titik dawatmu anak-anak bangkit
bermata sipit, memanggilmu baba pailit.
hidup selalu tumbuh dari rasa sakit, bukan?
dan kau menciumi ubun-ubun mereka
seperti menciumi benih-benih gambir
yang kaucintai sekaligus kaubenci.
               nak, jangan jatuh bagai tapai
               di lantai ia bersepai
               tapi jatuhlah bagai biji
               di tanah ia akan menjadi.

menjadi sungai-sungai bercabang
menghala ke lingga, ke bintan,
ke pangkal-pangkal malam,
ke surau-surau sunyi,
ke bilik-bilik puisi.
dan jika sampai di sini
mataku bagai jaring pukat
membacamu tak sudah-sudah
meski gapaiku tak dapat-dapat.

              alahmak, gadis portugis itukah
               yang berdiri tengadah
               menunggu bayang-bayang matahari
               meredup di tanjung puteri

seperti petang, ia berjalan pincang
memikul ingatan yang kian tak tajam
menuju cahaya kalam yang tak kunjung padam.

Sumber: Gazal Hamzah (Ganding Pustaka, Yogyakarta, 2016)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *