Puisi: Kematian Hang di Payau Deli – Bresman Marpaung

Bresman Marpaung

1)

para tengku bersama hulubalang
barangkali juga angin keramat
selepas tumbuh musim berburu laba
jatuh dibabat penyusup bernafsu pengerat

babah dan tuan kota pandai menyimpan rupa
memetik-metik rancak gelegak ombak
dihempang di kubang melintang
memetiki kelong, merongrong parang garang
gedebum! sejak kerontang jadi arang
rumah panggung malu berkaki panjang
diserbu rayap bersayap gemerincing, berhati kering
petuah di tiang datuk dihempas berguling-guling
raungnya diraun-raun pantun

ikan-ikan gagal menanam silsilah
pulang di tengah musim
bersama arus-arus pembawa kepiting
dipalang dada tanjung
terusir ke seberang
punah di palung

2)

payau segera mengubur rupa
dibunuh berbatang-batang hantu perantau
dibawa pemuja musim khalwat
tenar sekarang bergelagat di baris pantai
cepat dan pandai mengisi pundi
menguras masa lampau sekukuh mpu
penghulu ikut terpukau
pemburu laut ramai-ramai diserbu racau
dirasuk pelarian hantu bakau
Hang pun terkurung
gagu di lorong lereng karang
berjaga tak segigih pasukan kekar pelebur debur
sia-sia menunggu peziarah bertandang

siapa orang kampung kagum memandang
kalau tak bisa berkacak pendekar
sejantan dua pemarang memuncak perang?
pendekar hanyalah nama
jika terhuyung membawa takdir
tinggal tulang bergemilang gamang
pelan-pelan dikikis habis gerimis tangis

pengakar itikad sepanjang lengan
kekal bermusim-musim menyekap perjalanan selat
menggantang cermat tiap rampasan sebunting tandan
segagah armada bertaji maut, serakus gerigis
menyeruput kering air tubuh negeri
terkubur si buyung lupa berniat laksamana

 

3)

selagak-lagak lanun berguru di pangkal
tuan Damang ikut berakal dangkal
serupa koloni tumbuh bermuslihat nakal
sepakat meliang-liang maksud menggoyang hikayat
sunguh tak disangka pendek tarikat
nakal berbisik-bisik mengguling Hang
menggulung jasadnya serahasia payau hilang
lihat, mesti banyak serempak doa berkalang
dalam sekejab tak ada kubur penanda maut dapat kau susur
ombak terperangkap tak mau menunjuk sisa bencana
di tanjung yang kau pikir asal hikayat
hanya kabar-kabar burung mati mengapung

penghulu kampung takkan membawa sesaji
tanda sepakat menyanjung ruh jembalang laut
menghujat Hang dan laut sekedar menepi
pecahan sekutu imbak tak setia di musim maut
penyebab lambung sekampung borok berkarat
tak patut disanjung, sebab mengiring
hanya sekerat berkat dapat dijerat
di muara ramai pengerat

pada koloni menggantung pundi berikat-ikat
tuan demang, penghulu dan sekampung sungguh kepincut
genap menyerah sembah, mau dipasung mengusung-usung mimpi
gadis-gadis penunggu emas pun rela menanggal cemas
bosan menunggu Hang berjuang tiba
pulang paling merayu di pantun purnama

 

Sumber: Kompas, 4 Juni 2016.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *