Puisi: Malam Jakarta – Hanna Fransisca

Hanna Fransisca

Air, air,
melayang terbang di bawah pohon kersen
burung di ranting, basah sayapnya
memandang Jakarta

Jauh di langit gadis kecil mencangkung
nenteng plastik, mengunyah permen,
matanya bening seperti bulan.
Ia merajuk pada Tuhan,
“Tuhan, Tuhan, ambilkan bola mainku
yang nyangkut bersama mayatku
di selokan.“

Gedung jangkung, ada perempuan
panjang rambutnya,
berdiri di balkon
dipeluk pacar
dari belakang

hujan di luar, tapi hangat tubuhnya hingga ke
payudara

“Lihat pacar, lihat, ada gereja terendam,
ada pasar tenggelam, ada orang-orang berenang
di jalan dalam. Apakah mereka
dikutuk menjadi ikan?“
Pacar tertawa, berkata bahwa di kolam
dan akuarium ikan-ikan pasti bahagia.
Lelaki meremas kutang, memandang jalan,
dan menghujani
tengkuk perempuan
dengan ludahnya

Sunyi sirene melintas pintas,
di bawah kersen air melayang
dan burung basah terbang malam.
Gadis kecil nenteng plastik di langit.
Bermain dengan Tuhan yang memberinya permen
dan bola mainan.
Ia tak lagi mengingat ibunya.
Ia tak lagi ingat ayahnya.
Bahkan lupa pada mayatnya.

Jalan-jalan mengambang, plastik mengambang,
motor dan truk, mengalir bersama diam,
hanyut ke luas arus,
ke hitam lumpur. Atap rumah berendam,
berbisik saling berdiam.
Ada listrik masih nyala,
di gedung jangkung
tempat sang pacar ngajak senggama.
“Sayangku, banjir tubuhku, banjir tubuhmu.“

Pohon kersen ditinggal burung,
di bawah langit,
menggigil malam. Buahnya jatuh,
menuju laut.

Jakarta, 2015

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 26 Juli 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *