Puisi: Mengelus Perut Istriku – Jamil Massa

Jamil Massa

Mengelus perut istriku
yang sedang menggembung seperti roti
dan berdenyut laksana surga
kurasakan panah-panah waktu
menumpul merambati kepala.

“Teruslah mengelus agar
kakak tak pernah berduka,”
ujarnya di antara jeri dan jaga.
Antara keluh kontraksi
dan rengsa plasenta.

Kuelus perut istriku
tatkala malam makin alum
dan sobekan hujan terhambur di halaman.
Kuelus sebab kudengar napasnya patah
bagai dilukai mimpi;
mimpi yang jadi bisik;
bisik yang jadi gema.

Di permukaan perutnya, urat-urat membayang
tak ubahnya peta Sulawesi yang perlahan
dijalari jalur kereta.

Rahimnya adalah ceruk suci
bagi segala serat suara.
Sungai tempat janji-janji dicuci,
dilipat, sebelum disimpan
dalam memori rahasia.

Di sanalah kau menggeliat
memeluk Beethoven dan kegelapan
menunggu pinangan cahaya
dan nasib buruk dunia.

Sementara di luar sini
aku senantiasa berseru kepadamu:
“Jangan takut, jangan takut, jangan takut,
dan jangan takut!”

Aku berseru meski memiliki suara
tak selalu membuatku mudah merasa lega.

2015

Sumber: Dari Timur – Tulisan Pilihan Makassar International Writers Festival Vol. 1, 2017 (Gramedia, 2017)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *