Puisi: Museum – Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Di sini, perempuan hitam itu masih tertanam
pada umpak putihnya. Perempuan yang mengenal
pohon, batu api, rahang gua dan bayang
bayang sendiri. Perempuan yang bekerja
dalam gelap, membentuk tubuh sendiri
dari lempung dan mengembuskan mantra
di ubun-ubun: “Barang siapa melupakan huruf
dan tanda pada tembikar ini, maka ia akan mati.”

Tapi tak ada yang mati di sini.
Tak ada yang bisa diingat dan dilupakan
pada huruf dan tanda pada prasasti.
Tak ada rajah pada lumpang dan kapak
tulang-tulang. Tak ada tulah pada besi
dan kuningan. Hanya musim bertemu musim,
memberkati biji-biji sebagaimana mestinya.

pada hari yang lain, ia temukan unggas, kunci besi,
nisan, tungku, bejana tanah, dan denah kota mati
dengan bukit dan lereng-lereng merahnya.
Lalu rumah-rumah dan jalan setapak.
Hujan di atap rumah-rumah
dan kabut setelah hujan.

Ia temukan juga laki-laki yang tegak
pada menara, wajahnya rontok oleh berkas
cahaya. Lalu anak-anak, dengan tubuh dan wajah
tembikar juga, berkerumun di ruang segi empat,
dalam duduk, berdiri, dan berbaring,
di antara gerak ramping patung-patung
batu dan percakapan lirih boneka perunggu.

Di depan altar ia rasakan ketakutan
prajurit-prajurit kayu itu, mengusap kening
sendiri dan mengucap baris-baris dari halaman
berganda talkin dan primbon.
Kata-kata yang disucikan, pada ratapan diam,
segaris dari segaris, membubung dan terlepas
dari jangkauan waktu.

Tanpa udara, cahaya menyala oleh benda
benda dengan sudut-sudutnya tajam.
Benda dan kata-kata, diam pada saatnya,
seperti cangkang putih di antara cermin
dan kisi-kisi timahnya. Benda dan kata-kata
yang terjangkau mata, sudut runcingnya
melukai ujung jari, pedih dan berdarah.

Di sini, benda dan kata-kata adalah daging waktu.
Darah dan daging waktu. Ketika gerak dan bunyi
telah menggenapi bentuknya sendiri.

2015

Sumber: Kompas, 26 April 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *