Puisi: Sang Guru – Asep Sambodja (1967-2010)

Asep Sambodja (1967-2010)

sebenar-benarnya guru
adalah khidir
ke mana pun kaki melangkah
menghijau jejak yang ditinggalkan
dan ia selalu menguji kesabaran
setiap muridnya

ia nabi yang dilebihkan allah
ghaib, tak tahu datang
dan perginya
tak tahu hidup dan matinya
tapi musa pernah berjumpa
di antara dua lautan
yang bertemu
dan pernah melihatnya
duduk di atas air

banyak yang tahu
khidir keturunan nuh
tapi lebih banyak yang tak tahu
kenapa ia selalu menghindari perempuan
tak ada yang tahu kenapa–
ia ingin hidup tanpa goda perempuan

ketika musa berguru padanya
tak satu pun pelajaran yang lulus
meskipun musa seorang nabi
“pelajaran yang kuberikan
tak memerlukan pertanyaan
cobalah kau terima
dengan kesabaran
itu saja.”

dalam perjalanan
musa dan khidir menaiki perahu
nelayan miskin
begitu mulai berlayar
khidir melubangi perahu itu
musa terkejut dan bertanya,
“khidir, kenapa kau lubangi perahu?
bukankah berbahaya?”

ujian pertama yang gagal
musa minta maaf,
meski tak mengerti

mereka melanjutkan pelajaran
dengan meneruskan perjalan
hingga ke sebuah kampung

khidir memanggil seorang anak kecil
yang tengah asyik bermain
anak itu datang menemui khidir
betapa terkejutnya musa
melihat khidir membunuh anak kecil itu
“khidir, kenapa kau bunuh anak ini?
bukankah ia tak berdosa?”

ujian kedua yang gagal—
musa diingatkan tentang syarat pelajaran
tentang kesabaran
musa minta maaf kedua kali,
meski tetap tak mengerti
mereka pun melanjutkan pelajaran
meneruskan perjalanan
ke kampung lain

musa dan khidir sampai di sebuah negeri
dengan lapar dan haus
mereka minta segelas air
atau sebiji kurma
sebagai penawar lapar dan dahaga
tapi tak seorang pun memberi
tak ada yang sudi menjamu

ketika khidir melihat sebuah rumah tua
yang hampir rubuh
di pinggir negeri,
ia perbaiki dengan tangannya sendiri
ia renovasi rumah itu
hingga layak huni
“khidir, kalau kau mau
kau bisa dapat upah
dan bisa memberi sesuatu,”
kata musa

musa, kau terlalu banyak bertanya
inilah saatnya kita berpisah
ingatkah kau, apa yang kulakukan
pernah kau alami?
bukankah kau pernah berada dalam peti
yang dibuang ke sungai?
bukankah kau pernah membunuh fatun
keturunan firaun?
bukankah kau pernah membantu putri syuaib
dan tak mengharap upah?
kenapa kau bertanya?
kenapa kau tak berpikir?

baiklah, kujelaskan padamu
seandainya perahu itu tidak kubocorkan
maka di tengah laut
ia akan dirampok
dan perahu itu
– satu-satunya sumber kekayaan
nelayan miskin itu—
akan dirampas pula!

seandainya anak itu tidak kubunuh
kelak ia akan menyesatkan
kedua orangtuanya
padahal keduanya beriman pada allah
dan tahu, saat anak itu mati
sang ibu tengah melahirkan
seorang anak perempuan
yang kelak menghormati
dan sayang pada orangtua

kenapa rumah itu kuperbaiki
sementara penduduk negeri kikir?
rumah itu milik dua anak yatim
– ayahnya dulu seorang yang saleh
dan di dalam rumah itu ada harta
yang terpendam
yang bisa menyejahterakan
kedua anak yatim

“khidir, kini jelas bagiku,
terima kasih, dan maafkan aku
tapi, sebelum berpisah, wasiatlah
padaku,” pinta musa

musa, nabi allah,
jangan kau mencari ilmu
hanya untuk jadi bahan pembicaraan
– sekadar prestise
tapi carilah ilmu
untuk diamalkan

jadilah orang yang selalu tersenyum
bukan tertawa
tinggalkan sikap keras kepala
dan jangan berjalan tanpa tujuan
wahai anak Imran,
jangan mencela kesalahan orang lain
tapi seringlah menangisi
kesalahan diri sendiri

wahai musa,
orang tidak pernah jemu menasihati
tapi orang jemu dinasihati
karena itu, jangan berlama-lama
menasihati kaummu

hati ibarat bejana
yang harus kau rawat
dan pelihara
dari segala hal yang meretakkan
dan memecahkan

kurangi usaha duniawi
buang jauh-jauh di belakangmu
karena dunia bukanlah alam
yang kau tempati selamanya
kau diciptakan
untuk mencari pahala
sebagai bekal di akhirat nanti
ikhlas dan bersabarlah
menghadapi kemaksiatan

musa, tumpahkanlah seluruh ilmumu
karena tempat yang kosong
akan terisi ilmu yang lain

bersikap sederhanalah
kesederhanaan akan menghalangi aib
dan akan memudahkan allah
memasukkan taufik dan hidayah

jangan masa bodoh
melihat sekitarmu
jika ada yang mencacimu
redamlah secara dewasa
dengan hati yang teguh

hai putra imran,
sadari bahwa ilmu allah
yang kau miliki
hanya sedikit saja
sungguh, menutupi kekurangan
dan sewenang-wenang
hanya menyiksa diri sendiri

jangan kau buka pintu ilmu
yang kuberikan
jika kau tak bisa menguncinya
dan jangan kau kunci pintu ilmu
jika kau tak tahu cara membuka

musa, siapa yang menumpuk harta
akan mati tertimbun harta
dan akan merasakan akibat
kerakusannya

mereka yang bersyukur
akan segala karunia allah
dan memohon kesabaran
patut diteladani
karena mampu mengalahkan
nafsu syahwat
dan godaan setan

orang seperti itulah
yang akan memetik buah
dari ilmu yang dicari

hai putra imran,
jadikan zikir dan pikir
sebagai pakaianmu
suatu hari
kau tak akan mampu
mengelak dari kesalahan
karena pada suatu saat
akalmu akan melanggar larangannya
maka mintalah keridhaan allah
dengan berbuat kebajikan

omonganku ini tak akan sia-sia
kalau kau menurutinya, musa

Sumber: Ballada Para Nabi (Bukupop, Jakarta, 2007)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *