Puisi: Trembesi – Arif Bagus Prasetyo

Arif Bagus Prasetyo

Legam dan menjulang
Burung-burung menyusun sarang di keteguhan lengan-lengannya.

Puri agung bagi rangrang dan bengkarung
Arsitektur yang tumbuh dari bayang-bayangnya sendiri.

Hari segera akan runtuh. Sendi-sendinya yang rumpang
Kian ringkih dan terpiuh.

Digayuti biji-biji pahit karma
Ia belajar mencintai segalanya yang tak layak dicintai.

Bercakap dengan mambang sepanjang malam
Penghuni dunia bawah yang matanya terbasuh susu

Yang susunya pernah penuh menampung hujan Januari
Dan putingnya tegak teracung dijilati matahari.

Dulu pernah ia berjalan membenci bintang
Hanya melangkah membunuh jarak, melupakan mata angin

Berpikir takkan sampai di mana pun
Takkan masuk dalam surga siapa pun

Dan berseru pada mereka yang bertahan, berjatuhan
dalam Tuhan:

“Hidup kekal memancung tugu
Atau musnah memendam diri dalam tanah!”

Mereka murka dan mengutuknya untuk lenyap
Meresap ke kambium pohon hitam:

Raja bermahkota rangka layang-layang
Lingkaran tahun dan nubuat-nubuatnya.

Menara azan di kejauhan. Burung-burung berdatangan
mencucuk cahaya terakhir senja dengan kicau keemasannya.

Para peladang bergegas pulang meramu api dan berdoa
Seraut wajah, selarik rajah dari surah sederhana

Kutorehkan pada jasad yang mengerang dalam batang.

2000

Sumber: Memento, Puisi 1993-2008 (Arti Foundation, Denpasar, 2009) 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *