Puisi: Tanjungkarang – Agit Yogi Subandi

Agit Yogi Subandi

di dadamu, kudengar nyanyian dari sumurmu yang hitam.

1
dada yang bidang, terlalu lebar untuk kurawat sendiri: setiap inci kulit di
dadamu adalah tanah dengan sumur-sumur hitam kering: diserap kemarau.
para pendusta berumah di putingmu: mengasapi, membakari rambut-
rambut yang menjuntai. dicangkulnya tanah-tanah gunduk. dagingmu,
berdenyut: menghimpun magma: siap membuncah. aku tumbuh di
dadamu: berdegup, mengejang di sudut-sudutnya. di gedung-gedung
berdinding kulit buaya. rumah-rumah berjendela persis mata ular sipit,
bengis memandang yang datang.

orang-orang: diam. tubuhnya bergetar, berdarah. setiap sapaan
berterbangan dan melayang-layang. seperti sekibas kipas siluman licik
yang menerbangkan pendopo, surau, dan pepohonan. aku melihat mata
mereka memandang jauh, mulut mereka berkatup-katup—namun tak ada
kata yang meletup—mobil-mobil melintas dan berlalu. dan langkah
burung-burung, anjing-anjing: tanpa suara. dan para peri, migrasi ke
dadamu; menarik segenap sekutunya untuk membangun rumah, menggali
harta para raja yang terkubur dan disimpan dalam peti kemudian dikubur
lagi. lantas di mana aku harus membangun rumah? sementara setiap malam
kau menggodaku dengan menyajikan gemerlap lampu di teras-teras yang
redup-terang. dan cahaya kecil warna-warni di pintu-pintu.

tubuh peminta-minta menggigil di sudutnya yang paling dekil. ada pula
yang merawat lukanya hingga borok, bernanah. bila ia berjalan, jalanan
bebercak: mengering, berkerak dan amis.

subuh lepuh. matahari bagai serpihan kaca yang terlontar dari langit. di
jalan, kusaksikan dada yang menggelembung kuning, meletup pada terik,
sentuhan pertama. pun begitu seterusnya.

2
dulu, teluk betung adalah ibu sekaligus bapak baginya. dan ia seperti lahan
luas yang ditumbuhi ilalang. dan peri agung, akan membuat
kota-kota baru, yang nanti akan aku sebut anakmu dan
ia menyebutnya cucu.

3
di dadamu, kukaitkan segenap malam yang tumbuh di sekitar tubuhku.
lampu-lampu menerangi denyut nadi yang sembunyi di balik dagingmu.
tapi aku, tak benar-benar bisa memasrahkan pipiku di dadamu. aroma
tanah menguar, bau karat tiang-tiang besi lampu menyebar—menjadi
satu—melawan segar tunas bunga-bunga, menolak kejernihan di hidung
para penghisap keheningan dari baris-baris kesedihan langit. aku
mengembara di dadamu, tapi tak pernah kucuri kalung yang menjuntai dari
leher hingga dadamu: kotaku.

aku dituduh siluman. sebab menginginkan sayap. aku dituduh membunuh,
sebab merawat badik yang tersepuh. kalian datang seperti serombongan
sapi-sapi liar. dan aku memberikan keagungan yang aku buat: nemui-nyimah1
dan keagungan yang kusematkan kepadamu, tumbuh seperti rumah-
rumah yang terus bermunculan di sebuah lapangan. dan kau, telah
membuat anak-anakku malu akan bahasaku sendiri. dan siapa yang telah
menghancurkan nengah-nyampor2?

4
rumah-rumah, gedung-gedung tersusun di balik dada, melekat di jantung.
rumah-rumah gempa. tanpa gemuruh. satu denyut jantung, berjarak satu
tahun. aku menyusuri sisa pecahan gempa, melewati persimpangan,
mencari diriku dan menanam dirimu, (di antara puing) dengan biji jagung:
tunaslah!

tanah-tanah kering, keras. kubangun rumah, kugali sumur, mengharap air
tapi yang keluar darah: menyembur. dan sumur ini, menggali dirinya
sendiri. semakin dalam. aku terperangah. dasarnya semakin hitam! kubuat
undakan di dindingnya dengan tanganku. maut mempesona,
memperkenalkan dirinya. aku mengeruk mengeruk dan mengeruk lagi,
hingga bau amis menyeruak, kuku lepas: berdarah dan terkulai di bibir
sumur.

5
tanjungkarang, aku telah tertidur di pinggir sumurmu selama delapan
tahun. delapan gempa. tanpa gemuruh. aku tidur di antara denyut
yang telah meruntuhkan gedung-gedung. puingnya semakin meremah.
angin melintas di ujung. dan sumur itu, kini bernyanyi. suara
pertama. aku bangkit. berjalan.

jagung-jagung, api hijau yang menyambar-nyambar tanganku. gedung-
gedung: remah roti kering dalam toples. orang-orang berkemeja biru muda.
dibibirnya ada ular dengan sayap kupu-kupu. mereka membangun
swalayan, membangun ruko-ruko. makam-makam dipindahkan. tanah
lembab. tapi mereka tak menggali sumur untuk mereka sendiri.

sumur di dadamu terkubur puing-puing yang meremah. remaja-remaja
berpasangan dan saling meminang di antara puing-puing. mereka tak
perduli. sebab mereka hanya iri. aku terus berjalan. mengumpulkan aksara
yang hampir dikubur semesta.

6
aku bertemu gadis berpinggul purnama. matahari meredupkan pandangan.
perempuan itu, mengumpulkan setiap biji mata laki-laki di pinggulnya.
aku melewatinya. mengacuhkannya. bertahan. bukan.

seorang gadis bermata malam yang tertukar warna. angin meniupi-niupi
tubuhnya. perempuan itu, mengumpulkan rupa laki-laki di dalam matanya.
aku melewatinya. mengacuhkannya. bertahan. bukan.

gadis bertelinga sayap kelelawar yang menyimpan getar langkah para lelaki
yang mendekat. aku menjauh. mengacuhkannya. bertahan. BUKAN!

berjalan lagi. dadaku persimpangan padat.

7
aku kembali ke rumahku. sumur menunggu. sumur yang menghitam.
bernyanyi. nyanyiannya adalah lantunan para putri duyung yang terdampar
di pulau terbuang. kubuatkan tali. kutimba. BENING!

8
kembali kususuri dadamu. menebas debu-debu.

Tanjungkarang, 2008-2009
————-
1) Nemui-Nyimah: saling mengunjungi untuk bersilaturahmi, selalu mempererat persaudaraan serta ramah menerima tamu.
2) Nengah-Nyampor: aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis.

Sumber: Sebait Pantun Bujang ( Dewan Kesenian Lampung, Bandar Lampung, Cetakan : I, Desember 2010)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *