Puisi: Ballada Malindeman dan Putibungsu – Sutan Iwan Soekri Munaf

Sutan Iwan Soekri Munaf
Ballada Malindeman dan Putibungsu

untuk pencipta kekal

bahasa damai dalam seluk malindeman
balikkan sarung abadi yang terlepas itu
tanaklah nasi dalam kerudung biru cintamu
kerna dahaga tak pernah lepas jalin ikatan

firdausi hilang sendiri dalam jantung hatinya
lembah-lembah petaka titi tangga bianglala
kerna pagi ini tak ada lagi tujuh bidadari turun mandi

batu di air, belah sendiri…

mawar besi turun mandi, begitulah konon putibungsu
dan tak pernah sedia teteki susu

kerudungnya masih setia lapisi pintu hati kelam
bunda sendiri terdiam menjerang dendam
kerna kaki tak pernah sedia melangkah dalam
dan geram menuntut cari kekasih yang terbang ke samawi lembam

“berikanlah selendang mayang itu, malindeman…”

“suara bayi tak pernah menyentuh hatimu, puan!”
kerna perjalanan sibak getar sepi
tak pernah diam mereguk sangsi

esok hari padi tak tumbuh jadi
detak-detak sebaris gigi
bahasa damai dalam seluk malindeman
tenggelamkan lautan cita
kemana akan cari angin topan untuk gapai letih
bahana suka bila gerangan…
penangkal jelaga
yang datang dan mendidih

firdausi hilang dalam jantung hatinya
lecut langkah tak pernah sampai ke batas-batas
semua dinding hambat terabas
cara makana manusiawi
dalam wajah lepas
melibas!

batu di air, belah sendiri…

“putibungsu, putibungsu
bayimu haus nafsu
tak pernah dapat air susu telaga biru…”

kemana pancuran
kemana siang jadi malam dalam tangisnya
kemana tanda-tanda kehancuran, tanda-tanda kematian
kemana kau, malindeman…

tinggalkan pacul tinggalkan bajak
tinggalkan kerbau tinggalkan sajak
hakiki tenggelam ilusi
intipati terbenam mimpi

“berjanjilah, putibungsu…
kembalilah esok petang bila mentari jadi biru!”
langit kata
deras memancar dalam busa darahnya
tinggalkan rasa
kerna kemarau menghunjam
debu-debu halus pun terbang dari puncak merapi-singgalang
maninjau tak pernah berikan senyum bagi pendatang
hanya lagunya, hanya tariannya dalam alun riak
singkarak terbanting dalam legenda hitam
diraut dendam

“putibungsu, putibungsu…
aku bukan lagi malinkundang zaman
mereguk anggur kematian
dari bahtera semu!”

mata tersesat ke jaring kasat
jemari takar hayat
tak ada lagi hajat
sebelum dekap hidup bersamamu, putibungsu hatiku tersayat…

semua hitam
semua hitam, putibungsu
semua legam
semua legam, malindeman

bahasa damai dalam seluk malindeman
bangkitkan hati putibungsu, bangkitkan batang terendam
menjura sunyi di tepi pagi, tak ada gunanya
mengolah tubuh menjadi perkasa
itulah malindeman! itulah malindeman
lelaki pendendam, lelaki yang cintanya terpendam…
putibungsu bangkitkan hati

putibungsu lupa diri lupa makna
malindeman mabuk diri mabuk makna

“panumu, malindeman..
jantung hatiku, kembang bersemi lagi!”

hanya bentangan mimpi
dekam hati malindeman

hanya bentangan mimpi
dekam sepinya malindeman

hanya bentangan nyata
memagar hati malindeman

hanya bentangan nyata
menggigit luka yang koyak-boyak

putibungsu lari ke surga angsana
cari cinta atas petaka

segala tekad padu
dalam hati putibungsu

segala tekad satu
dalam jantung putibungsu

“firdausi hilang dalam jantung hatiku,
putibungsu!”

suara-suara
menjadi parau
suara-suara memukau
suara malindeman
suara putibungsu
suara orang mabuk bercinta
suara gereseh peseh dari balik ranjang

lihatlah,
putibungsu gadis idola
tak pernah datang menjaja cinta
dengarlah,
genderang perang enggan sentuh lubuk hati
kerna langka jumpa gadis serupa

putibungsu, putibungsu
ada pagar dari langit
ada batas dari bumi

“kutunggu di batang arau,
ketika keluargamu mandi di musim kemarau…”

malindeman, malindeman…
belenggu hati
melenguh setiap diri
malindeman, malindeman…
kau tunggu sebatas langit perak lembayung
mungkin ada asa tergantung

salung sendiri main dalam randai
menggaris-garisi kias sijundai
melindeman terbantai
jadi katai

salung sendiri main dalam indang
baris-membarisi malindeman bertalu-talu mabuk gendang
jadi sendang
jadi endang

salung sendiri main dalam lingkungan hidup
babat hutan jadi redup
demi isi perut

semua sudah luka
manusia sudah kehilangan jiwa

semua jadi manda
manusia jadi gila

malindeman ambil kapak, remukkan hidupnya
babat hati hingga luka

malindeman jadi manda
bermain di pinggir hari
ke tepi senja
menunggu saat perjanjian tiba

(engkaukah don quixot itu, malindeman?)

percayalah,
suara itu, suara asing

“putibungsu, putibungsu…
aku hilang maknawi hatiku!”

suara yang hilang-hilang timbul
gema terbanting di mana-mana

suara yang resah
membabat kisah demi kisah

“putibungsu, putibungsu…
dalam jarak
aku hilang maknawi hatiku!”

malindeman tutup harap
malindeman renggut lindap
malindeman lebarkan sayap
malindeman bungkam seribu basa
malindeman buka pintu
malindeman mimpikan putibungsu
malindeman buka ragu
malindeman masukkan sepi dan bisu

putibungsu harap-harap cemas
putibungsu menunggu cinta
putibungsu menimbang cinta
putibungsu memutus lepas
putibungsu memanggang hati
putibungsu merejam diri

begitulah kodrat
begitulah hayat

“putibungsu, putibungsu…”

suara malindeman
hilang-hilang timbul
“malindeman, malindeman…
bayimu, bayiku juga
kubawa, kuperlihatkan pada Tuhan!”

suara terbanting-banting
suara putibungsu
remukkan hati
sansaikan hati

terpisah dari anak
terpisah dari bapak
langit tak bertuan
sunyi bertambah mega

domba-domba melenguh
tembus tembok-tembok lepas
gontai

“bundakandung, selamat tinggal!”

suara aneh
suara putibungsu

“kemanakah tuan, puti?”

bundakandung mencegah pergi
demi malindeman si tulang punggung
si mata hati
semata loyang

“kembali ke wujud asal…”

suara datar
suara putibungsu

“kau bawakah putera tuan, putera malindemanku, cucuku, puti?”

suara menukik
suara bundakandung
tersekat

“biarlah dalam surga kusimpan kisah kental…
biarlah malindeman, biarlah bundakandung
biarlah puteraku jadi penghubung kekal…”

suara datar
suara hilang
suara putibungsu
suara ketabahan

langit kata
jadi busa
samawi harap
jadi kerap

terang-benderang langkah
tinggalkan sitiung
cerlang datangnya pasrah
tinggalkan silaing

bukit-bukit hati
bukit-bukit sepi
lautan hati
lautan kata
tak terkirakan
sepi pecah
hati remuk

“malindeman, malindeman…”

suara putibungsu
suara hilang
suara datang

“dalam kaba kita jumpa…”

suara putibungsu
suara hilang suara datang
suara luka mengoyak-boyak

“aku rindu bapakku, malindeman!”

suara putibungsu
suara hilang suara datang
suara yang lama dikenal malindeman

suara pelipur lara dalam tiap malam
suara yang hilang

“bapakku rindu cucunya!”

suara putibungsu
suara hilang suara datang
suara-suara jalang

“bapakmu rindu cucunya?
bapakmu rindumu, puan?”

langit pun kemerah-merahan
ssemakin perak
tangga pun hilang sedikit demi sedikit

“putibungsu, putibungsu…
dengarlah,
yang menyuntingmu, selain aku
adalah bapakmu
lelaki yang mencintaimu, selain aku
adalah bapakmu

“putibungsu, putibungsu…
engkau terimakah mahar dari bapakmu?”

malindeman geram
suaranya berat
malindeman dendam
hatinya tersayat

“putibungsu, putibungsu…
kembalilah!”

malindeman geram
suaranya berat
menukik ke dalam jantung
menjerat

langit pun kemerah-merahan
semakin perak
semakin emas
tangga pun hilang sedikit demi sedikit

putibungsu melangkah sambil menari
melindeman rindu dendam dalam hati

putibungsu menjauh
malindeman melenguh

bermain-main dalam ruang mata
mencabik-cabik kisah lama

malindeman mengucap-ucap
kata sendiri jadi lindap

surat terbaca di air
tertulis di batang agam
mengalir bersama suara listrik
surat terbaca di air
terjaga hati dekat beragam
kita jatuh di tiap distrik

melindeman mengucap-ucap
kata sendiri jadi lindap

“perempuan lain jadikan umpan, putibungsuku…
tak pernah ada hati selain kau, puan!”

oh,
semua ada dalam jiwaniku!

bandung 1982

Sumber: Obsesi (Angkasa, Bandung; Cet. 1, 1985)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *