Puisi: Ballada Setengah Baya – Toeti Heraty (l. 1933)

Toeti Heraty (l. 1933)
Ballada Setengah Baya

di suatu losmen di Kampung Bali
agak terhormat dengan dengan sebutan wisma
seorang wanita setengah baya, menunggu pacarnya
kamar yang tigaribu perak itu pengap
dengan kipas angin yang macet selalu
kamar mandi agak berlumut, tapi air jernih
gayung plastik kuning, alas ranjang berwarna biru
tembok tidak begitu bersih, berdebu
ada coretan spidol: “Romeo dan Julia”

di bawahnya “Cicih dan Iman”, gambar jantung
         ditembus dua panah beradu

tak apa menunggu -, hanya agak terganggu
atau lebih tepat tersinggung barangkali
oleh pemilik losmen yang tadi membiarkannya
naik tangga tapi sambil bertanya-tanya:
“ini perempuan dipesan, datangnya
terlalu terburu-buru, meskipun
agak malu-malu”
di luar bunyi-bunyi jalanan terdengar
nenek cerewet memaki-maki, jemuran
dikotori anak-anak bermain tadi

tak apa menunggu -, meski sudah agak lama
apa gerangan, yang menunda kedatangannya
ia duduk, kemudian terbaring, bantal didekap
gelisah, menghalau macam-macam pertimbangan:
“sayang -, aku sangat rindu dan butuh
jangan sekali-kali kau khianati janji
walau pun terbiasa, sudah
mengkhianati istri –
ini bukan sembarang kencan, kita sudah
lama hubungan -, sedikit manisnya hidup
hendak kukecup, ah, ini
hak azazi yang sangat kuharap”

jangan-jangan ia telah sadar kembali
kemudian pulang pada istri, di sana
‘kan ada pertimbangan juga:
“bukankah aku telah cukup berbakti
membesarkan anak, nafkah dibantu mencari
hutang-hutanga telah kita lunasi
hubungan dengan mertua lumayan, meski
dititipi ipar-ipar sialan”
hari-hari Minggu, waktu Lebaran
hari-hari selamatan, acara arisan
sekali-sekali nonton berdua, membicarakan
tetangga, itu pun semacam ikatan juga…
“apa lagi yang kutunggu di sini
tak tahu malu -, pasti ia telah kembali
apa pula yang kuharap, tak sepantasnya
kutunggu suami orang – ”

pas pintu berderak, ia masuk bawa tas echolac
tak ada yang tertunda lagi
sekian pertimbangan tidak laku lagi
tanpa perlu basa-basi, peluk cium
membuang waktu, karena ranjang
tadinya benua antara kutub utara dan
antartika, kini
telah diseberangi oleh dua makhluk setengah baya
yang di antara mesum debu, saksi-saksi bisu
mengecap madu -, hidup
yang tidak begitu muda lagi
telah cukup dilukai, dan saling membelai,
mengecup bekas duri, senjata tajam, berbagai
torehan luka kehidupan
dalam waktu satu, dua jam, sempat mujarab
disembuhkan –

memang,
tak banyak kesempatan
lalu pintu diketuk lagi:
“kamar tadi sudah dibayar,
ini kembalinya sekalian
handuk kami antar
lantas pesan minum apa?”

1980

Sumber: Manifestasi Puisi Indonesia Belanda (Pustaka Sinar Harapan; Jakarta; 1986)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *