Puisi: Penyair – Amarzan Ismail Hamid (l. 1947)

Amarzan Ismail Hamid (l. 1947)
Penyair

seperti bisa kubaca seluruh dendam kasihmu
orangtua sederhana yang letih mengembara,
dalam pertemuan di senja ini
teratak tua dilindungi rindang bambu
sedang mei-hua belum berbunga
musim dingin belum tiba.

seperti kurasakan seluruh kutuk kebenciannya,
raja-raja perang berpesta diatas bangkai petani kelaparan
sedang nelayan harus menyelami sungai yang-tse
kala salju turun menimbum bumi,
dalam pertemuan di senja ini
desa lengang ditingkah dendang petani.

0, penyair yang mati di perahu
betapapun tak kau lihat dalam tidur abadimu
wajah merah Tiongkok kini,
namun sair dan kenangan telah terpahat
di hati mereka yang lagu dukanya kau dendangkan
dan yang kini menggenggam kemenangan

12 Oktober 1964

 

Sumber: Gugur Merah (Merakesumba, 2008)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *