Puisi: Rakaat Sembahyang Tengah Malam – Karno Kartadibrata (l. 1945)

Karno Kartadibrata
Rakaat Sembahyang Tengah Malam

Rakaat sembahyang tengah malam
kubawa dalam pelukan
Ah, apa yang dapat dicapai dengan tangan
ketika berlari-larian
apa yang dapat dikejar
apa yang dapat sekarang?

Dari tengah kota telah ubanan
tahang-tahang air di pinggir jalan
seorang tua datang
— dengan wajah putus asa —
bawa linggis menggali lubang
“Kami besok semua binasa
rumah sakit itu
ranjang dan ranjang”

Dan daun gugur
dibawa angin
dari pulau ke pulau
“Masih adakah harapanmu pada benih
terkubur jauh di bawah palung
bayi memejam di kegelapan kandang
cahaya jatuh dari daun
ke daun bakung?
Tahu kau, besok kota akan binasa
datang angin dan banjir?”

Sudah dibawa burung
kematian ada di lidah
darah di tahang-tahang
Rakaat sembahyang tengah malam
gemetar dalam pelukan.

Bandung, 1970

Sumber: Picnic (Kiblat Buku Utama, Bandung, 2009)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *