Puisi: Sembilan Lirik Kasmaran – Beni Setia (l. 1954)

Beni Setia (l. 1954)
Sembilan Lirik Kasmaran

1.
terpancang pada perahu. sang layar berkebar-kebar
dan geladak mengengadah menenggak awan. dihubung-hubungkan
kepak rasa. ruh mendesah bagai daun di musim gugur

2.
kau dengar? “ekor cicak ini terlempar dari
dinding, menggelepar di bawah tatap sakit”
kau lihat? telunjuk melurus di al-haram ash-sharif

3.
mencari ke yokohama dan lanarca, bagaikan si buta
kehilangan tongkat arafah. “tak bisa mencintai diri
meski merindukan cinta,” lulung handa di jabal rahmah

4.
o-awal o-akhir, menyatu di hening udara gunung
: ahasveros mengelili o-bumi, aku berthawaf
— berseru dan menyerukan “handa handa handa handa!”

5.
yusuf diangkat dari sumur, nuh berangkat, sedang
mawar handa bertahan di karbala. bersujud
menunggu kilap-kalap merengut jantung mimpi jazid

6.
memotong leher ismailku, ibrahim mengirim kuncup
ke ketiak musim dingin. o, membelah dada meremas
arasy — taman bercinta tanpa gumam cemburu handa

7.
inti dari inti, diremah jadi kawah. julang
dari julang, handa, menunjuk sidrat al-muntaha. dada
kuda sayap simurgh — “apakah aku setia di taman rahwana?”

8. sembilan kantung embun segantang darah bulbul. o,
mawar-bilalku menuju kutaraja leawt jawa. pasukan
fakar menyerukan handa dalam wangi pantang ramadha-nan

9.
gemrengan cina dan genderang jepang, talu-talu
amazona dan tifa irian. salaksa beduk dan takbir
berhenti di balik pintu saat tirai dibuka handa dan…

1987

Sumber: Dinamika Gerak (Pustakakarya Grafikatama, Jakarta; 1990)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *