Puisi: Cahaya Mau Mati – S. Rukiah (1927-1996)

S. Rukiah (1927-1996)
Cahaya Mau Mati

Kita memang berdiri antara pagi dan malam
Pula kadang-kadang lihat juga bintang di langit seribu,
atau perempuan busuk hati,
yang nyanyi-nyanyi main piano cari cinta laki-laki

Katakan saja dunia ini penuh gula,
dan orang-orang mau baca tentang cerita kebenaran,
tidak tahu bila tubuh tinggal tulang,
serta cahaya sudah mati di hujan malam,
atau hari pahit-pahit minta janji,
dalam Bijbel kita baca satu kalimat
“Tuhan itu memang besar,
tapi sampai besok kita tidak mengerti kepadanya.”

Marah-marah kita kembali ke jalanan penuh debu,,
di mana banyak pengemis cari uang harga satu sen,
atau ada anak kecil berebutan permainan,
sedng matahari pada tanah
bikin bayangan panjang-panjang,
dan kita masih dalam kesangsian:
“apa malam nanti ada bulan sama bintang?!”

Bila cinta mau berhenti,
darah yang panas menjadi dingin,
kita hentikan juga ini jalanan ke malam hari,
biar lama bermain di tanah bayangan yang panjang-panjang,
dan kita rasakan ini hati pahit-pahit minta janji,
sebab kita memang berdiri antara pagi dan malam,
tapi lupakan dulu teriakan menjulang langit:
“besok malam cahaya mati,
besok malam cahaya mati!”

Katakan saja dunia ini penuh gula,
atau orang-orang mau baca tentang cerita kebenaran
tapi perempuan busuk hati,
masih terus nyanyi-nyanyi main piano cari cinta laki-laki.

Sumber: Indonesia, 10 November 1949 via “Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (Pustaka Jaya, Jakarta, 1979)

2 thoughts on “Puisi: Cahaya Mau Mati – S. Rukiah (1927-1996)

  1. Ada sebuah typo pada bait dua larik dua “Orang-oarng” ataukah memang begitu adanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *