Puisi: Sang Kota – Abu Mufakhir

Abu Mufakhir

Sang Kota

Kota-kota dibangun
Dari dalam penaklukan
Menjadi tempat bagi segala keserakahan dipusatkan
Ia dilahirkan, diberi nama, diatur, lalu dihancurkan
Di atas pengusiran, kelaparan dan kekeringan yang sama

Dari dalam kota
Pelabuhan, rel kereta api, dan jalan-jalan memanjang
Menembus hutan dan pegunungan
Agar kerakusan terus mengalir dan menjalar
Dari perkebunan ke laut
Dari laut ke gudang
Dari gudang ke pelelangan
Lalu ke pasar, perut dan kepala.
Dari pertambangan-pertambangan terpencil
ke toko-toko berlian di pusat kota
Dihantar genangan darah dan ribuan nyawa

Pabrik-pabrik terus didirikan
Mesin-mesin tenun didatangkan dari kota yang lain
Manusia-manusia dibentuk kesadarannya
Mimpi-mimpi dijual di bank-bank besar dan buas
Gedung-gedung menghisap listrik
Kemacetan diciptakan, dan terus memanjang
Setiap hari ada kepala yang remuk di jalanan
Untuk bisa pulang atau makan.

Pemukiman kumuh serentak menyebar
Sekedar tempat untuk makan dan menangis
Kamar-kamar sempit terus berdenyut, tergusur,
lalu kembali berdenyut
kuman-kuman menyelinap ke kepala
dan paru-paru robek

Lalu penjara-penjara dibuat
Pencuri tak henti-henti lahir, mati, dan lahir lagi
Hukum dan ketertiban dirumuskan
Sementara kemiskinan semakin mengerang
Menyebar seperti asap dari beribu-ribu sarangnya
Pengemis diusir, datang, diusir, dan datang lagi
Kesedihan terus mengalir dari kegelapan
Merasuk ke dalam urat-urat kota itu sendiri
Memompa berjuta-juta galon air
Menggerakkan turbin dan lampu-lampu apartemen
Lalu dilempar ke dalam sel yang kering
Di dalamnya seorang ibu menangis, tertawa,
dan menangis lagi
Mendengar kabar anaknya mati dibakar di perempatan jalan

Sesekali kesedihan bangkit
Menjadi amuk dan pukulan linggis
Toko-toko dijarah
Perkosaan di jalanan
Penembak gelap
Mayat-mayat yang tergenang di trotoar.

Penguasa jatuh, bangkit
Jatuh, dan bangkit lebih bengis lagi

Kota-kota kembali dihancurkan
Lalu dibangun ulang oleh otot-otot orang lapar
Ingatan-ingatan lama dikirim ke langit
Agar zaman baru bisa diciptakan
Dengan berjuta-juta baja seludupan
Dengan eksodus remaja desa
Untuk menjadi mesin yang lebih besar dan cepat

Sementara kemarahan dan penderitaan menemukan wujudhnya
Dalam batu, bensin, dan pisau
Dalam kucuran darah, api, dan luka karat
Kemudian ditundukkan kembali oleh hukum
Oleh janji-janji tentang surga dan neraka
Diatur lebih keras, dan lebih keras lagi
Tepat di situlah kita saling berjumpa
Saling menipu dan memaafkan
Dalam ketakutan dan penderitaan yang mirip

Di kota ini
Kita bertahan
Dengan air sungai beracun yang sama
Dengan mengais sampah kimia yang sama
Tertidur dalam kegelapan, rasa lapar, dan mimpi yang sama

Kita yang tak bertanah,
Tak berumah,
Tak punya kertas dan pena
Tak punya apapun untuk diwariskan
Kita yang mati perlahan
Di jalanan atau penjara
Tanpa khidmat upacara pemakaman
Tanpa kehadiran keadilan
Tanpa tangis kekasih yang kita cintai

Sumber: Kavaleri Malam Hari (Abdurrahman Wahid Center for Inter-faith Dialogue and Peace Universitas Indonesia dan Quark Books, 2017)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *