Eh, GM Menulis Sajak Mbeling!

Oleh Hasan Aspahani

JUDULNYA “Ode untuk Rambut Gondrong”. Ditulis September 1973. Saya tak menemukan sajak itu di kumpulan sajak lengkapnya 1961-2001.

Tentu saja tidak. Sajak itu memang ditulis untuk sinis. Sinis pada pemerintah Orde Baru yang pernah lebay banget melarang warga berambut gondrong. Sampai menggelar razia. Dan itu perintah resmi pada tentara.

Di Republik Tukang Cukur
Mereka berseru: Ukur & Atur!
Pasukan-pasukan berdefile
Mengguntingmu, membasmi ketombe

Dan kau pun gugur, tanggal
Rambut tak dikenal
Siapakah yang menangisimu,
Martelarku? Kutu-kutumu?

Jelas GM memang sedang hendak berolok-olok. Ia menyindir dengan parodi dan sarkasme. Bolehlah kita sebut ini tergolong jens sajak mbeling juga. Ia sendiri setahu saya tak pernah gondrong.

Tapi larangan negara terhadap orang gondrong itu sudah ada sejak 1971, artinya dua tahun sebelum GM menulis sajaknya di rubrik “Catata Kebudayaan” majalah sastra Horison, Oktober 1973.

Pada tahun 1971 itu, TVRI melarang para seniman berambut gondrong tampil televisi milik pemerintah itu.

Ini larangan tak main-main. Seperti diberitakan majalah Tempo, pada 15 Januari 1972 Jenderal Soemitro memberlakukan larangan gondrong secara tertulis. Presiden Soeharto pun mengeluarkan perintah agar anggota ABRI, serta pegawai sipil di lingkungan militer dan keluarganya tak boleh gondrong.

Apa yang disinisi GM di majalah Horison itu kini memang terasa lucu. Kala itu di Medan, Gubernur Sumatera Utara membentuk Badan Pemberantasan Rambut Gondrong. Tak kalah lucunya adalah reaksi mahasiswa, kalangan yang paling terdampak. Di Bandung razia antigondrong dibalas razia orang gendut. Balasan razia itu dilakukan untuk menyindir Jenderal Soemitro, yang bertubuh tambun.

“Catatan Kebudayaan” di majalah Horison adalah rubrik semacam sikap redaksi terhadap sebuah isu. Seperti tajuk rencana pada surat kabar. Isinya bisa berupa esai pendek, atau puisi, pernah juga hanya berupa satu kalimat seru. Yang mengisi bergantian, antara Jassin, Mochtar Lubis, Sapardi Djoko Damono, Sutardji, juga Goenawan, dan beberapa nama lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *