Puisi: Dialog Pecinta dan Perindu – Djoko Saryono (l. 1962)

Djoko Saryono (l. 1962)
Dialog Pecinta dan Perindu

Lihatlah cintaku, lihatlah, laut gelisahku telah mencipta
tarian badai, meliuk-liuk memburu kanal-kanal pantai:
tempat dirimu santai, menanti pasang surut selepas senja
terkulai dan gelap terburai. Esok bakal kau temui kabar:
seorang pelaut asmara terdampar dan terkapar semalam
setelah dihempaskan amuk samudra aksara yang tercipta
dari teluh cerita; dan telat diselamatkan penjaga rindu yang
mampu melaju, menerjang, dan menembus amuk samudra
aksara.

“Rinduku, maafkan, aku hanya mampu bernyanyi: olle
ollang paraona alajara, olle ollang alajara ka Madura.
Berbilang kali, tak henti. Semalaman. Seraya menanti kau
tiba dalam segala rupa: terkapar dan terdampar, tanpa
busana asmara hingga cintamu kepadaku terlihat nyata.
Harus kukata, rinduku, semalam tak datang angin sakal
dan hampa kujelang rasi bintang penunjuk arah dirimu
di hamparan samudra yang melampaui luas khazanah
kosakata. Mana mungkin, rinduku, aku berani mendayung
jukung rindu untuk menolongmu? Bisa-bisa aku terlumat
di ganas amuk samudra aksara.”

Cintaku, engkau di mana? Pagi demikian sempurna:
matahari mengirim warna emas pada mataku selepas diriku
terbebas dari kapar dan dampar. “Rinduku, bukankah aku
senantiasa di sampingmu? Kitab-kitab penyimpan ceritaku
bukankah kau genggam selalu di hatimu?” Pantai menerima
kecipak: belum datang ombak. Selepas semalam segala
bergolak.

Sumber: Arung Cinta (Pelangi Sastra, Malang, Bekerjasama dengan Kafe Pustaka Malang dan Perpustakaan Pusat Universitas Negeri Malang, 2015)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *