Puisi: Musafir Mendaki Gunung – Samadi (1918-1958)

Samadi (1918-1958)
Musafir Mendaki Gunung

Jauh di tengah padang di bawah naungan pohon eru,
Di mana kaki gunung turun melembah,
Dan rumput gatil-gatilan menghijau sampai ke tepi rimba,
Tempat air yang sejuk-sejuk,
Dan angin membawa bau bunga-bungaan sedang mengembang,
Di sanalah teman, seorang musafir melepaskan lelahnya,
Mengumpulkan kekuatan untuk mendaki gunung
Megah hijau menjulang ke udara.

Musafir:
O, gunung yang indah, berilah aku izin mendaki lerengmu,
Aku ingin mencapai puncah bersepuh emas.

Gunung:
Jangan, jangan musafir, tak usah aku kau daki pula
Kelak engkau akan tertipu, nanti engkau akan menyesal;
Dari jauh puncakku bersalut emas,
Dari dekat panas berbatu-batu…

Musafir:
Ah gunung yang indah, berilah aku izin mendaki lerengmu,
Aku ingin mengecap nikmat kebiruanmu
Yang mengabur di sela mega tipis melayang.

Gunung:
Jangan, jangan musafir, jangan tertipu di rupa lahir,
Engkau nanti akan menyesal, engkau kelak akan kecewa,
Engkau kan sesat di kabut tebal;

Musafir:
Biarlah, o gunung yang indah, izinkanlah aku mendaki lerengmu,
Apakah artinya semua marabahaya dan halangan itu,
Kalau dibandingkan dengan rasa bahagia yang akan dicapai
Bila sampai di puncak tinggi mencakar langit,
Dari mana aku dapat melihat lembah luas mengabur
Disalut embun pagi naik beriring?

Gunung:
Jangan musafir, jangan, itu cuma bayangan,
Dan bahagia yang kaukatakan itu pun hanya semata angan-angan
Bayangan yang akan hilang, angan-angan yang tiada kan sampai.
Engkau akan terguling terluncur dilanggar batu,
Engkau akan terhempas tersungkur ke ngarai curam,
Akan digigit ular, kala, lipan berbisa!
Musafir, dari jauh sajalah pandangi aku,
Jangan mendekat, jangan mendaki!

Musafir:
Oh, gunung yang indah,
Biar terhempas biar tersungkur, kepala pecah tersembur darah,
Biar meraung biar menggarung, namun puncakmu kudaki jua,
Keindahanmu telah membuat hatiku gila,
Warnamu yang biru mengandung penuh nikmat rahasia.
Kalau aku kan mati jua,
Biarlah mati dalam menuju ke cita-cita…!


Sumber: Senandung Hidup (Penerbit Boekoe Tjerdas, Medan, 1941; Pustaka Jaya, 1975) lewat Tonggak 1 (Gramedia, 1987)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *