Puisi: Lumpur dan Sinar – Muhammad Ali (1927 – 1998)

Muhammad Ali (1927 – 1998)
Lumpur dan Sinar

Kalau bibir kecil telah mengering-pasi
dan mata lembut tunduk ke bumi,
Sedang pohon kian merimbun…
Tiada telinga suka percaya
kepada bayu membelai rindu.
Oh, rumput tak juga mau layu.
Ingin pula minum kabut pagi biru!
Tapi, baru ada hidup nyanyian hidup,
janji lahar siksa terkutuk
Sesudah bulu mau mengaku.

Suatu ketika, biduk akan terdampar
di karang: tanah dan mega tandus terbakar.
Di situlah aku melolong gemas.
Dan anjing menyalak, “O, pencari mimpi.”
Ini orang bertabur bisul,
berbaju karat, tiada pintanya lagi:
Mandi dalam kolam dingin.
Atau senyum semanis madu.
Sebab di sekeliling, dan dia juga
meleleh, korban api kepalsuan hari.

Nanti, burung hantu menggigil ketakutan.
Bila berkeliaran pemuja-pemuja gelita:
Persetan pada tiang gantungan.
Biarkah aku gila di muka kekasih.
Dan kalau kawan mencibir jijik…
Kau pun mesti kurobek-robek.
Tidak! Aku tak sudi lagi
mengukur jarak antara aku dan Dia.
Atau menerka, mana jalan
ke sorga atau neraka…

Sumber: Mimbar Indonesia, Th. III No. 22, 28 Mei 1949; dalam “Gema Tanah Air” (Balai Pustaka, Cet. 5, 1969).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *