Puisi: Tinggal Bahasa – Galeh Pramudianto (l. 1993)

Galeh Pramudianto (l. 1993)

Tinggal Bahasa

Aku rindu eskalator yang membawaku sampai di lembah baju-
baju. Kentang goreng, susu kotak, dan jus melon merekah dalam
kantong belanjaan. Aku rindu ruang merokok, yang
menggendongku beristirahat pada pekat polusi kota,
menenangkan dalam sebungkus hisap lesap.
Aku rindu pada ibu yang berbincang dengan kliennya bersama
donat dan moccacino di sudut ruko-ruko. Aku rindu bertemu Wiji
dan Warhol. O, apa mereka sarapan satu meja? Aku rindu pada
billboard di bulevar, menyalak, memeluk tubuh haus ini dalam
dekapan kaleng soda. Di praja aku tertinggal oleh lampu-lampu,
ditawan kartu kredit dan dijajah gosip-gosip. Kini hanya
bahasaku sahaja yang masih setia mengampu.

Sumber: Skenario Menyusun Antena (Indie Book Corner, Yogyakarta
Cetakan, 2015)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *