Esai: Sajak “30 Tahun” Putu Vivi Lestari, yang Lenyap dalam Simbol dan Legenda

Oleh Hasan Aspahani

SIAPAKAH pembaca di hadapan teks puisi? Apalah dia seorang hakim yang hendak mengadili dan karena itu dia mencari sekecil apapun kesalahan puisi itu? Atau seorang peneliti yang berhasrat mendapat penemuan baru, dan apabila ia tak menemukan apa-apa maka dia akan kecewa?

Atau dokter yang mendiagnosa puisi sebagai si sakit lalu ia akan kasih resep dan beri nasihat ini itu agar si pasien sembuh? Atau ia pelancong yang memasuki puisi sebagai daerah wisata tempat dia bisa beriang-ria melepas penat jiwa?  Atau petualang yang masuk menemu kepelikan, sebagai tantangan, untuk mendapatkan gairah, ketegangan, kejutan, dari wilayah baru yang ditawarkan puisi?

Bisa siapa saja. Hakim, peneliti, dokter, pelancong, atau petualang. Saya sering menikmati peran sebagai petualang. Teks puisi yang baik bagi saya harus berupa wilayah yang menantang untuk dijelajahi.  Hakikat keseronokan sebuah petualangan adalah permainan dengan serangkaian kejutan-kejutan. Ada awal dan akhir. Mendaki gunung harus sampai di puncak. Mengarungi jeram harus sampai muara atau pada titik setelah menempuh satu jarak yang ditetapkan.

Dengan mengambil posisi sebagai petualang maka saya selalu merindukan wilayah petualangan baru, teks puisi yang baru, yang menjanjikan kejutan-kejutan baru. Apabila yang ditawarkan permainan yang sudah pernah saya temui di sajak-sajak yang sudah pernah saya jelajahi, maka daya tarik puisi itu bagi saya berkurang.

Dengan semangat berpetualang seperti itu, mari kita masuki sajak “30  Tahun” karya Putu Vivi Lestari (1981-2017). Vivi adalah salah seorang penyair Indonesia asal Bali yang menghasilkan sejumlah sajak kuat. Sajak-sajaknya dikumpulkan dalam “Ovulasi yang Gagal” (Pustaka Ekspresi) dan diterbitkan posthumous.

Dalam sajak ini terhimpun sejumlah kata yang bisa kita kelompokkan dalam dua kolokasi (yang agak longgar). Pertama, kata atau frasa bernada aristokrasi-religius:  resi, kidung suci, firdaus, kerajaanmu, malaikat, panglima perang, penyalib, air suci; Kedua, kata atau frasa domestik:   kepulan wajan, letupan minyak, tudung saji, bulir-bulir putih, sisa panen, bawang merah, bawang putih, harum limau, minyak dari perasaan kelapa.

Kompleksitas (complexity) – salah satu syarat puisi yang baik – dalam puisi ini dibangun dengan mencampur, menabrakkan, memadu-padankan dari dua kelompok kolokasi itu. Kontras juga terbangun dengan strategi puitik itu: hal-hal remeh terkait urusan dapur disandingkan dengan gagasan-gagasan besar dari konsep agama-agama.

Kontras inilah yang menjadi ruh (yang membangun sebagian besar kompleksitas) dalam sajak ini. Bagaimana seseorang menyadari bahwa keberadaannya sebagai manusia di dunia (kerajaanmu) – sebagaimana dituntut oleh konsep atau tuntutan moral agama-agama –  cuma jadi malaikat. Cuma? Ya, cuma. Cuma pelindung yang jauh, atau penerus mata air, atau penyalib keinginan (nafsu dan lapar) ranjang dan liang hitam.

Manusia seakan dituntut untuk menjadi suci dengan standar moral seorang malaikat, padahal kenyataannya, kita menghadapi persoalan yang nyata, yang kotor, yang profan. Manusia tak seperti malaikat, harus memikirkan dia akan makan apa, apa yang dalam sajak ini diucapkan dengan ‘wajan yang mengepul’, dan minyak yang meletup, membuat peta lepuh di tubuh. Malaikat tak bergulat dengan kerepotan dan kesakitan itu.

Banyak frasa yang menjadi kunci untuk membuka pintu masuk ke dalam pemaknaan sajak ini. Vivi sudah memberi isyarat dengan gamblang lewat repetisi. Ada dua bait yang dia ulang. Pertama, “Beri sajalah aku penundaan yang lama”, dan kedua, Yang tetap menjadi retuntuhan.

Bait “Beri sajalah….” ini menarik. Bagi saya ini adalah bentuk lain dari Chairil “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Bentuk lain. Benar-benar lain. Jika Charil membangkitkan nada perlawanan, Vivi tidak. Ia tahu maut pasti akan datang padanya, maka yang ia minta adalah penudaan. Penundaan yang lama. Untuk apa hidup dalam usia yang lebih panjang? Ia ingin lebih bisa memahami hidup, karena para resi di abad-abad lewat cuma mengirim seserpih kidung suci.

Manusia lahir dengan menanggung hukuman, “..kesucian koyak di langit firdaus”, dan banyak hal dalam hidup manusia tak terjelaskan, kecuali harus diterima sebagai dogma. Manusia tak melewati rimba semesta. Karena itu, penyair kita membayangkan hidup lebih lama, penundaan perjumpaan dengan maut, meskipun ia tahu tak mungkin lagi ia bisa mengetahui segala hal-ihwal itu seutuh-utuhnya, karena dunia “…tetap menjadi reruntuhan”, dan selama apapun ia bertahan, maka “…tetap saja tualangku tak cukup”.

Pengulangan-pengulangan bait itu, di tengah bentangan teks sajak bebas dalam puisi ini, membantu kita untuk membuat pembacaan yang utuh. Pengulangan itu membangun keutuhan dalam sajak. Satu lagi syarat sebuah sajak yang bagus dicapai oleh sajak ini: keutuhan (unity).

Upaya mengutuhkan sajak, di tengah diksi dari dua kolokasi yang sudah lebih dahulu membangun kompleksitas, juga dilakukan dengan mencoba membangkitkan intensitas (intensity) yang meskipun terasa tapi bagi saya tak sampai pada puncak yang sangat mungkin dicapai.

Ada tiga kali kata musim dihadirkan di tempat-tempat yang tepat di dalam sajak. Di bagian awal (panglima perang Karthago di musim lalu), di bagian tengah (tapi musim mengirim kemarau), dan di bagian akhir (di musim dingin yang kemudian lenyap).

Saya membayangkan jika imaji musim itu digarap lebih intens akan menambah tenaga sajak ini untuk mengaduk emosi pembaca. Misalnya dengan mengatur bagaimana empat (bukan tiga, sebagai mana dihadirkan dalam sajak) musim itu bersilih-ganti, dikaitkan dengan si manusia dalam sajak itu. Itu mungkin hanya semacam kepengrajinan dan kejelian gagasan saja.

Nah, si petualang itu sudah menjadi dokter. Maafkan. Sajak ini sehat-sehat belaka. Sama sekali tak ada sakit yang ia idap. Apalagi kemudian ditutup dengan bait yang sangat kuat ironinya: “… yang kemudian lenyap dalam simbol dan legenda”. 

Manusia menjadi manusia terutama karena ia mampu menyadari berbagai hal sebagai simbol. Bukan peristiwa semata dan kemudian bereaksi pada peristiwa itu, apa yang juga dilakukan oleh hewan. Simbol menjadi simbol apabila ia menawarkan kemungkinan pemaknaan.

Semetara legenda jika ingin dilacak akar katanya, berasal dari kata yang berarti dibaca, bacaan, sesuatu yang dibaca. Kata itu bahkan juga terkait dengan kata yang berarti dipetik, atau dipanen.

Dengan demikian legenda pada hakikatnya adalah narasi dari sesuatu yang layak dibaca, diketahui oleh orang yang hadir di dunia lebih kemudian, sebagai buah yang layak dipetik dari (tanaman) perbuatan. Kini mungkin kita memakai kata itu dengan makna yang menyempit, hanya sebagai cerita rakyat, yang samar-samar ada kaitannya dengan sejarah.      

Menjadi simbol dan menjadi legenda bukanlah sebuah kelenyapan. Itu artinya menjadi abadi. Hidup bagi penyair kita akhirnya hanyalah proses menghilang, melindap dalam simbol dan legenda (yang artinya juga menjadi abadi, atau setidaknya ada bagian dari hidup itu yang mengabadi).

Selesaikah petualangan saya? Saya ingin berhenti. Tapi petualangan belum selesai. Tak pernah selesai. Sajak yang baik selalu begitu. Ia menyisakan dirinya tetap sebagai misteri. Misalnya? Kenapa sajak ini berjudul 30 tahun? Merujuk ke usia penyairnya saat itu? Tidak, sajak ini ditulis pada 2001, pada saat si penyair baru berusi 20 tahun (ia lahir pada 1981). Jadi apa artinya 30 tahun? Saya tak tahu. Hal-hal enigmatic seperti ini bisa menambah nikmat petualangan dalam teks sajak.  Saya menikmati saja itu sebagai pertanyaan kecil yang tak terjawab. Saya sudah digirangkan oleh banyak kejutan. 

Depok, 27 Februari 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *